Showing posts with label Ambon. Show all posts
Showing posts with label Ambon. Show all posts

Bosan ke Bali? Ke AMBON saja! (bagian 3)

on Saturday, October 30, 2010
Uwokee!! Cerita berikutnya!

Selanjutnya gw mau bercerita tentang tempat bernama Pintu Kota. Ini dia fotonya:

,

Jadi, Pintu Kota itu adalah nama sebuat tempat yang memiliki batu-batu karang berbentuk melengkung seperti pintu/gerbang.
Di belakangnya itu sudah laut lepas, alias Laut Banda.

Ini foto sekitar-sekitarnya. BENAR-BENAR DIPENUHI KARANG, jadi mungkin kurang cocok dipake bermain-main atau berenang. Karangnya tajam loh...


Pemandangan dari atas (iya, kita bisa naik ke atas batu karang gedenya):




FAKTA MENARIK: di Ambon itu, segala tempat wisata atau tempat hiburan cuma rame pas hari Sabtu dan Minggu alias weekend.
Sisanya?
SEPI. BANGET.
Sepinya benar-benar ga nyante, sampai2 pas gw datang ke Pintu Kota ini, harusnya masuknya bayar. Tapi karena gw datang hari Rabu, yang adalah bukan hari normal buat berwisata, jadi tempat itu KOSONG, ga ada yang jaga, dan gw masuk GRATIS.

Lucu?
Memang. Gw juga heran dengan fakta ini. Padahal jarak antar-kota di Ambon cukup dekat, jadi lo bisa berwisata kapan aja hidung lo merasa pengen wisata.


Nah, cerita gw sekian saja dari Ambon ini. Untuk menjadi penutup yang oke, gw kasih gambar-gambar pantai-pantai asoy di Ambon yang dijamin MANTAP dan GRATIS.



(pulau di depan adalah Pulau Seram)











OH, HAMPIR LUPA!

Ini kota Ambon. Difoto dari rumah keluarga gw.


Bosan ke Bali? Ke AMBON saja! (bagian 2)

on Tuesday, October 19, 2010
LANDJOET!!

Oh ya, sebelumnya gw sempat menyinggung tentang Alang, nama kampung oma gw. Ini foto Alang:


Foto itu diambil dari..semacam tempat tertinggi lah, di Alang. Jadi namanya Trap 99, soalnya katanya ada 99 anak tangga. Waktu itu gw ditantang suruh ngitungin, tapi karena tiap anak tangga tingginya ga sama, jadi SUPER CAPE dan gw ga jadi ngitung.
Di pinggir kanan kirinya itu rumah-rumah penduduk. Dan hampir setiap 5 anak tangga, gw harus singgah ke beberapa rumah karena...ya, namanya juga kampung keluarga, isinya keluarga semua alias saling kenal.


OKE, selesai cerita tentang Alang. Mari kita beralih ke tempat hiburan lain di Ambon yang bisa dikunjungi :D

Yang pertama adalah PEMANDIAN AIR PANAS!!!
*sekali lagi maaf, karena sudah 1 tahun, jadi gw lupa nama tempatnya apa*


Itu, gw lagi berendam di pemandian air panas. Airnya terus mengalir, jadi gapapa masuk ke dalam pake baju. Kentut juga gapapa, palingan muncul gelembung panas.
Oh ya, di belakang batu hitam itu, ada kolam air panas lagi, tapi yang lebih 'dingin' alias hangat. Disarankan masuk ke kolam yang hangat dulu, baru yang panas.

Oh ya, sumber air panasnya juga tidak jauh dari situ (lebih tepatnya tidak jauh dari tempat gw berfoto di atas). Sumbernya itu belerang, dan karena jaraknya yang dekat itu, jadi airnya bisa tiba-tiba naik suhunya, trus nanti kalo udah lamaan dikit jadi agak turun. Tapi ntar naik lagi. Jadi jangan kaget kalo sekalipun lo udah berendam lama di dalam, tapi airnya berasa lebih panas.

Oh ya, air panas itu mampu menyembuhkan gatal-gatal. Tapi jangan coba-coba masukin kepala, karena suhu otak itu tidak boleh terlalu panas. Kalo panas, nanti bisa pingsan ato....mungkin otak lo bakal matang.


BERIKOETNJA, di suatu lokasi di Ambon ini, ada sebuah tempat yang terkenal dengan Morea-nya.

APA ITOE MOREA????

Morea adalah istilah orang Ambon untuk menyebut BELUT.
Apa kelebihan belut ini??

MOREA/BELUT INI BESAR!


Ukurannya nyaris sama dengan betis gw!!!

Btw, itu yang di depan gw adalah pawangnya. Dia memanggil keluar morea-morea itu dengan tepukan-tepukan aneh ke air, lalu diumpan dengan telor mentah. Oh ya, morenya ada BANYAK.


Ada yang aneh dengan gambar di atas?
ADA CUCIAN ORANG!

Ya, karena sungai (?) itu memiliki mata air yang dekat dan selalu mengalir, jadi para ibu-ibu pun mencuci baju di situ. Dan ajaibnya, sepertinya para morea ini hidup tenang di tengah air-air cucian dan sabun-sabun.

Tidak ditutup kemungkinan untuk berenang di situ. Airnya BERSIH BANGET!

Ini sumber airnya:


AIRNYA JERNIH BANGET!!
Waktu itu sebenarnya gw udah pengen nyebur, tapi karena abis itu mau ke pemandian air panas, jadinya gw cuma pergi memegang-megang morea.

GIMANAH?? OKE KAN AMBON ITU??!!


...bersambung

Bosan ke Bali? Ke AMBON saja! (bagian 1)

on Saturday, October 16, 2010
Oke, karena waktu itu gw sedang skip dari dunia blog, maka kali ini gw akan menceritakan tentang tanah 'asal' gw: AMBON.

Nah, walaupun gw sebenarnya memiliki darah Ambon, Belanda, Cina (dan mungkin Arab), tapi kalo ditanyain gw itu orang apa, pasti gw jawab gw orang Ambon. Dan biasanya banyak yang berkomentar kalo gw tidak terlihat seperti orang Ambon. Lantas terlihat seperti apa dong gw?

Jika digolongkan, gw mungkin termasuk orang Ambon yang murtad. Gw belum pernah menginjak tanah Ambon. Gw ga tau letak persisnya kampung gw di Ambon sebelah mana. Gw sebenarnya sudah tidak punya keluarga 'langsung' di Ambon. Gw tidak punya rumah di Ambon.

Gw cuma numpang nama dan gen.

Untungnya, tahun 2009 lalu gw diajak ke Ambon bareng opa dan (alm) oma gw. Cuma seminggu sih, tapi bagi gw itu spesial banget.
Nah, karena sudah lewat setahun, jadi gw tidak ingat persisnya bagaimana perjalanan gw. Lebih baik gw ceritakan saja yang gw tau tentang Ambon.


Nah, keluarga gw yang masih di Ambon itu adalah saudara-saudara dari (alm) oma gw. Pada awalnya gw membayangkan Ambon adalah tempat yang terpencil, ansos, dan agak kampungan. Tapi setelah datang ke sana....well, it's better.

Kota Ambon sendiri adalah kota yang kecil. Di sana cuma ada satu KFC, tidak ada mall satupun, dan hanya ada sedikit restoran atau rumah makan. Jangan harap di sana ada Starbucks, J.Co, Bread Talk, A&W, dan teman-temannya itu. Dan jangan harap ada yang mau buka gerai Chanel, Hugo Boss, atau sejenisnya di sana.

Jadi intinya orang Ambon memang masih 'tradisional'. Orang Ambon lebih suka masak makanan sendiri atau makan masakan maminya daripada keluar makan di restoran. Orang Ambon itu pada dasarnya malas, jadi yang punya toko atau buka usaha itu pasti orang luar Ambon, misalnya orang Makassar, Buton, atau orang Cina.

Ambon bisa dibilang terbagi dua. Pembagian ini adalah peninggalan masa kerusuhan dulu. Daerah pesisir yang dekat dengan laut itu adalah daerah Muslim, sedangkan daerah atas yang di bukit-bukit adalah daerah Kristen. Sekarang sih sama aja. Kalo keluarga gw itu sendiri tinggalnya di 'atas' (daerah bukit).

Pulau Ambon itu cuma pulau kecil. Yang kelihatan dari peta itu adalah Pulau Seram. Karena Ambon itu tengahnya adalah gunung, jadi semua kota-kotanya terletak di tepi pantai. Jalanan antar kota itu juga menyusuri pantai.

Naaaah, di sinilah asiknya.



Foto di atas diambil di sebuah pantai. Pantainya ga bernama? EMANG! Hohohohohoho, di situlah gaulnya!
Jadi waktu itu gw lagi dalam perjalanan mau ke kota manaaaa gitu. Terus di tengah jalan, kita melihat bahwa pantainya keren. Jadilah kita langsung MENEPI, TURUN DARI MOBIL, dan BERMAIN DI PANTAI!!!
MUHAHAHAHHAHAHAHAHAHAH!!!!

Kurang enak apa coba?? Lo bisa ke pantai dengan mudah, dimanapun, tinggal turun dari mobil and IT'S ALL YOURS!! YOU CAN PLAY LIKE YOU OWN THE BEACH!! Ga bayar, ga ada yang jaga, ga ada yang larang!!
KURANG KEREN APA LAGI TUH??

Iya, jadi intinya di Ambon itu lo bisa bosan liat laut tiap hari.

Nah, cerita gaul lainnya.

Gw di rumah salah satu kerabat di dekat Alang. Rumahnya sederhana, tapi pekarangannya GEDE BANGET.
Ini kita foto di pekarangannya.

Jadi waktu itu dia nawarin, 'mau minum air kelapa ga?' Nah, karena semua mengiyakan, dia pun pergi.....MEMANJAT POHON DAN MENGAMBIL KELAPA!
Jadi pekarangan rumahnya penuh pohon kelapa. Kalau mau minum, tinggal manjat saja!

Terus rumahnya itu pas di pinggir pantai jadi anginnya dasyat banget. Batas antara rumahnya dan pantai/laut hanyalah tembok pendek:

Tuh, yang lagi dipijak sama opa dan sepupu gw.
Dan setelah melewati tembok pendek itu, maka kita akan menemukan:



JENGJEEEEEEENG!!! LAUT LAGI!
KEREN KAN? KEREN KAN? KEREN KAAAAAAAAAAAAAAAAN???!!!


....bersambung

I'm a Sahetapy, I'm an Ambonese

on Monday, September 6, 2010
Majalah TEMPO
Senin, 6 September 2010
Halaman 51

"BANDA, SEBUAH DUKA PARIWISATA"


Baru membaca beberapa paragraf di artikel ini saja sudah membuat gw sedih. Gw menunda membaca kelanjutannya, dan memilih untuk menuangkan beberapa patah paragraf di blog ini dulu.

Banda bukan sekedar nama laut dalam di wilayah Maluku. Banda merupakan kepulauan yang pada jaman kolonial dulu adalah sebuah nama yang sangat terkenal di hampir seantero dunia. Orang Belanda, Inggris, Portugis, dan Spanyol berebutan ke pulau ini. Pedagang-pedagang Cina dan Arab pun mungkin tak mau melewatkan daerah ini.

Banda adalah sebuah kepulauan yang sangat kaya akan rempah-rempahnya. Ketenarannya pada masa lalu--sesuai judul artikel--nampaknya telah hilang begitu saja, oleh sebuah konflik agama yang tragis.

Jujur gw nangis membaca artikel itu. Kenapa gw nangis? Pertama karena konflik Ambon itu sendiri, yang dikatakan sebagai penyebab sepinya pariwisata ke pulau ini. Konflik Ambon adalah konflik omong kosong. Banyak orang Ambon yang percaya kalau konflik ini bukan dipicu oleh orang dalam, tapi oleh orang dari luar.

Konflik ini sudah lama berlalu, tapi lukanya tidak akan pernah hilang. Yang lebih membuat gw sedih adalah karena tempat itu sesungguhnya adalah kampung halaman gw.
Tidak banyak yang tahu kalau gw orang Ambon. Mungkin wajah gw tidak menunjukkan itu. Tapi itulah kenyataannya, dan ironisnya, seumur hidup gw baru menginjak Ambon tahun lalu, saat libur kelulusan bersama opa-oma gw.

Setelah tiba di sana, semua ekspektasi gw tentang Ambon langsung hilang. Gw mengira Ambon adalah daerah terpencil yang jelek, yang serba kurang ini itu, dan akan membosankan. Pada kenyataannya tidak.
Kampung halaman gw itu adalah sebuah tempat yang luar biasa indah, dengan lembah-lembah yang masih perawan, pantai-pantai yang tak terhitung banyaknya dan indah-indah, serta penduduk yang sesungguhnya sangat ramah.

Berbeda jauh dengan Jakarta, ataupun Makassar, Ambon adalah kota kecil dimana tidak ada mall sama sekali, hanya ada satu KFC, dan jalanan yang tidak besar. Di Ambon hanya ada sedikit restoran, karena semua orang lebih menikmati masakan di rumahnya sendiri.

Ambon bisa dikelilingin hanya dalam waktu 1-2 hari naik mobil. Setiap saat kita dapat melihat pantai, singgah di pemandian air panas, bermain di laut sampai puas, makan ikan-ikan besar, dll.
Tapi yang lebih membuat gw sayang dengan kampung halaman gw ini adalah, di sini gw menemukan sebuah tempat yang bisa gw katakan sebagai 'kampung halaman'. Tempat dimana gw berasal.

Keluarga gw kecil. Bokap dan gw adalah anak tunggal. Nyokap hanya 2 bersaudara. Oma dari bokap bersaudara 5, tapi sekarang tinggal 2. Opa dari bokap..bisa dibilang misteri, karena nampaknya dia tidak pernah membicarakan keluarganya.
Opa dari nyokap hanya 2 bersaudara, itupun tidak dekat. Yang masih ada di Ambon adalah keluarga almarhum oma dari nyokap. Dia bersaudara 4 orang, dan masing-masing memiliki banyak anak. Mereka semua masih ada di Ambon, dan di sanalah gw tinggal selama 1 minggu itu.

Seumur hidup gw, belum pernah gw rasakan memiliki kerabat keluarga yang banyak, dan menikmati kegiatan berkumpul di rumah untuk makan siang, setelah itu mengobrol dan tertawa bersama-sama. Selama 18 tahun gw terbiasa sendiri, dan pada saat itu gw benar-benar merasakan esensi dari apa yang disebut keluarga.

Ini keluarga gw.
Mereka menerima gw dengan tangan terbuka, dan mereka sangat senang dengan kedatangan gw.
Ini Ambon. Ini tanah darimana gw berasal.
Dan dengan segala keindahannya, gw dengan bangga berkata bahwa inilah kampung halaman gw. Mungkin di sinilah gw ingin menghabiskan hari tua gw.

Gw sedih karena semua orang hanya melihat Ambon sebagai daerah bekas konflik, yang entah sekarang masih terjadi atau tidak. Gw sedih karena orang selalu berorientasi liburan ke luar negeri, padahal mereka bisa menemukan hal-hal yang indah di Ambon. Gw sedih karena orang-orang menganggap Ambon adalah daerah entah berantah yang terbelakang. Dan terlebih lagi setelah membaca artikel tentang Banda ini, gw makin sedih.

I...don't know how to express this. Maybe if any one read this, they'll think that this is just some unimportant information. But I do sad, and I do cry.

Satu hal yang tidak pernah terlupa dari ingatan gw adalah pada hari meninggalnya oma gw tercinta, kakaknya, yang gw panggil Oma Kos, lalu datang mendekati gw, di depan peti mati oma gw.
Matanya yang basah menatap mata gw yang baru saja kering beberapa saat yang lalu.

"Gebi, jangan lupa dengan keluarga dan sodara yang di Ambon, ya. Ingat kalo katorang masih basodara..."

And I said yes, while hardly tried to keep my eyes dry. I think it's a vow, in front of my grandma.



I love you, Ambon.