Showing posts with label Jogja. Show all posts
Showing posts with label Jogja. Show all posts

There and Back Again: Jogja day 2, part 2

on Thursday, August 26, 2010
Alright, leaving Borobudur, then we're heading to Candi Mendut. It's a small Buddhist temple, located in the middle of nowhere--really, because the temple was surrounded by houses, small fence...just like a simple playground. Well, here it is:


Yap, just that one, single, solo temple. There are three different statue inside of it, some 'arca' and 'pahatan' in the walls, but more on that...nothing.

So, our next stop was a big store (included restaurant) specialize on silver. My dad bought two rings for my mom, also one for me :D My mom's rings are looking great, yet mine...could be mistaken if I wore it at my 'jari manis'.

Now, our next stop was Candi Prambanan. This time we took a guide with us, who, luckily, a very attractive and funny man. Overall we liked him a lot. He told us every thing he knew about Prambanan.

Prambanan had many temple inside it's area. To be noticed, Prambanan located in the border of Jogja and Solo. The fences and the parking lot is already in the area of Solo, but the temple itself still in Jogja.

Unlike Borobudur and Mendut, Candi Prambanan was a Hindu temple. And...I don't know whether it's because I wasn't notice it when the first time I went there, but the temple astonished me.
Very much.

Unlike Borobudur, the Prambanan was higher and more singular. It was found by the Dutch in such a miserable condition. The temple was litteraly damaged, so the Dutch had to restore them every pieces. Prambanan has three largest temples, each made to resemble the three deities of Hindu:
Brahma, the god who creates everything on earth.
Siwa, the god of destruction.
Wisnu, the god of keeper.

In front of the three largest temples, lies three other temples, dedicated to the gods' ride.
Brahma's ride is a swan.
Siwa's ride is an ox.
Wisnu's ride is a garuda.

Unfortunately, only the ox surfives. The other two was still missing.

The process of restoring Prambanan is ongoing, but the earthquake on 2006 destroyed it again. Now the process still on the way, and I was sured that they had a lot of work to do.

Anyway, we were thinking of attending the Ramayana Ballet, but since it was very late and we're all very tired, we just decided to go home. We didn't even went out to dinner. But this temple-trip-day was very amazing!











Vacation day 3.
Jogja day 2.

THE END.

There and Back Again: Jogja day 2, part 1

on Wednesday, August 25, 2010
TEMPLE TRIP: BOROBUDUR, MENDUT, & PRAMBANAN

Sesuai judul, hari kedua ini adalah hari untuk mengunjungi candi-candi di sekitar Jogja. Ya, sekitar Jogja, karena candi-candi tersebut sebenarnya tidak lagi berada dalam wilayah Jogja.

Pertama, kita menuju ke Candi Borobudur. Jalan-jalan sekarang jadi lebih mudah, karena kami sudah berbekal peta...walaupun petanya cuma peta kota Jogja, hehehe...
Nah, dari kota Jogja menuju Borobudur, yang perlu dicari hanyalah jalanan menuju Magelang. Jalannya cukup besar, karena mengarah ke luar kota. Kalau sudah dapat jalan menuju Borobudur, silahkan ikuti saja dulu jalanannya, karena candinya masih jauh.

Nah, setelah sampai di wilayah Magelang, Jawa Tengah, yang pertama ditemui adalah daerah Muntilan. Dari sini masih lurus lagi, tapi perhatikan baik-baik rambu jalannya, karena nantinya akan ada pertigaan, dan kita harus membelok ke kiri untuk menuju Borobudur.

Setelah melewati pertigaan, ikuti saja rambu-rambu yang ada. Kita lalu memasuki sebuah jalanan dua arah dengan hamparan sawah di kiri kanan jalan, yang rupanya telah menarik perhatian sepasang bule.
Pemandangan yang menarik, sebab mereka berdua tengah berjongkok di tengah sawah, entah mencari ular atau sedang meneliti akar padi, atau mungkin hanya melepas rasa penasaran mereka karena di negaranya tidak ada padi.

Masuk lagi ke dalam, kita akan melewati Candi Mendut terlebih dahulu. Lurus terus, lalu terdapat pertigaan (atau perempatan?) jalan dengan sebuah tugu besar di depannya, bertuliskan Taman Budaya Candi Borobudur. Jalanannya terbagi dua, tapi sebenarnya ujungnya sama, jadi masuk saja ke salah satunya. Kami memilih jalanan yang sebelah kanan.

Nah, ketika ada pertigaan, kami sempat dibuat bingung, karena tidak ada rambu-rambu yang menunjukkan Borobudur ke arah mana. Setelah berjalan agak jauh, kami memutar balik karena salah jalan, lalu membelok ke kanan di pertigaan (yang di tengahnya ada tugu). Ternyata rambu-rambunya ada, hanya saja ketutupan pohon -.-'

Nah, akhirnya KETEMU JUGA TJANDI BOROBUDUR! TROTEEEEEEEEEEEEEEEEEEET!! *suara terompet perang*

Begiti mobil kami memasuki area parkir, tiba-tiba segerombolan penjual menginvasi kami. And yes, literally, they invaded us.
Mereka langsung mendekat, menyodorkan jualannya, dan tidak berhenti walaupun sudah berkali-kali ditolak.

Dari parkiran ke Borobudur, jaraknya JAUH. Dan sialnya lagi, udara sedang PANAS-PANASNYA. Baru jalan 100 meter, keringat sudah mengalir heboh di punggung gw. Di depan gw, ada sekeluarga bule yang sangat ingin tahu. Entah kenapa, tiba-tiba mereka berhenti dan memotret seonggok daun di jalanan.
Lalu mereka mengelilingi daun itu dengan penuh minat.
Lantas dijepret lagi.



Lalu berikutnya mereka memotret ulat bulu gendut.
Ternyata ulat bulunya bereaksi pada suara jepretan! ULAT BULU MENJADI RAKSASA DAN MEMANGSA KELUARGA BULE ITU! GROAAAAAAAAAAAAAAAAR!!!

*plak!*

Now....hh hhh hh *tersengal-sengal*
Finally...

Candi Borobudur!


Bokap dan nyokap langsung mencium tanah Borobudur, menangis terharu, dan berjoget riang di depan candi, karena akhirnya setelah 40 tahun lebih hidup di dunia ini, mereka akhirnya menyaksikan kebesara, kelebaran, dan kepanasan Borobudur.


As for me?
Well, I've seen it once.


Tjatatan: WAJIB menyewa guide, karena kalau tidak, anda hanya akan mengitari Borobudur seperti orang tolol, mengagumi arca-arca di dindingnya, tanpa tahu apa arti dan ceritanya.

Sayangnya nyokap menolak memakai guide dengan pikiran bahwa gw, yang udah pernah ke sana, bisa menceritakan tentang Borobudur.

Well, it's been 3 year. What do you expect?

Nah, karena ga mengerti apa-apa, kami akhirnya hanya mengitari Borobudur. Foto sana foto sini, ketawa-ketiwi, ngeliatin bule-bule ganteng (itu cuma gw), dan...foto.











"I just want the entire BSD."


"I think they need patent for this... Surely will surpass Lego!"




"I'm definitely the queen of the world!"




To be continued...

There and Back Again: Jogja day 1

on Tuesday, August 24, 2010
Oke, inilah lanjutan dari postingan gw sebelumnya, tentang liburan (kurang) terencana gw dan keluarga ke Jogja!

Nah, setelah tidur dengan super polnya, kita breakfast di hotel. Agak mengecewakan sih, soalnya makanannya lebih banyak makanan lokal, bukan makanan ke-Eropa-an *maaf standar saya tinggi, keseringan makan di Hotel Le Grandeur (dulu Hotel Dusit) Mangdu*

Sebenarnya Hotel Mutiara ini bagus, cuma desainnya agak tua dan sempit, maka kami pun memutuskan untuk pindah hotel. Ga jauh-jauh kok, cuma bergeser sekitar 300 meter ke ujung jalan Malioboro, yaitu Hotel Inna Garuda.



Tjatatan: liburan pada bulan puasa atau bulan Ramadhan sebenarnya sangat enak. Banyak hotel-hotel yang memberikan paket diskon hingga 50% di bulan ini, jadi untuk biaya penginapan bisa dipangkas.

Nah, setelah tidur-tiduran sebentar di kamar hotel, nonton siaran langsung upacara bendera 17an, kami pun memutuskan untuk menjelajah Malioboro. Menikmati Malioboro memang paling enak jalan kaki, jadi kami jalan kaki saja (sambil mengistirahatkan si mobil yang abis jalan jauh). Tujuan pertama adalah: DAGADU. Sama seperti kalo orang ke Bali, ga lupa pergi ke Joger, maka ke Jogja, jangan lupa beli kaos Dagadu. Tempat yang gw ingat adalah di dalam mall, dan rupanya benar! Hore! Ingatan gw masih oke! *lebih*

Nah, tujuan kami yang berikutnya adalah Pasar Beringharjo, yang letaknya di ujung jalan yang satunya lagi di Malioboro. Maka sambil jalan kaki, kami juga belanja ini itu di sepanjang Malioboro. Oh ya, ada satu kejadian lucu.

Dekat Pasar Beringharjo, ada ibu-ibu yang jualan klepon dan getuk. Karena gw dan bokap adalah fans berat klepon, juga nyokap adalah fans getuk, maka kami pun memutuskan untuk membeli. Si ibu penjual pun menghentikan kegiatan memarut kelapanya.
Mengambil daun pisang, melipat...
Meletakkan 10 buak klepon di dalamnya.
Menaburkan parutan kelapa...
Lalu menaburkan GULA PASIR.

Gw dan nyokap cuma bisa cengo, speechless, lalu tatap-tatapan berdua.
Untunglah pemberian gula pasir pada getuk bisa dicegah.

Nah, Pasar Beringharjo letaknya agak jauh dari jalan utama. Kami bertanya-tanya lagi, apa benar mau ke Pasar Beringharjo, mengingat udara yang panas, dan kaki bokap yang sedang tidak bisa dipaksa jalan jauh. Yasudah, tidak jadi ke Pasar Beringharjo. Kami lalu duduk-duduk dulu di depan Benteng Vredeberg, sambil melihat upacara penurunan bendera di depannya.

Setelah didiskusikan lagi, akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi Keraton Jogja, yang letaknya tidak jauh dari situ...naik becak.

Kami lalu memanggil dua becak, dan dengan pedenya menaiki becak tersebut...


YANG TERNYATA TIDAK MUDAH!

Kami bertiga, yang besar di Makassar, sebenarnya sudah sangat terbiasa dengan becak. Tapi ternyata becak Makassar dan becak Jogja adalah BERBEDA, saudara-saudara.

Becak Makassar Becak Jogja










Perbedaan yang mencolok adalah: di becak Makassar, tempat duduk serta pijakan penumpang lebih rata, juga lebih rendah. Sedangkan di becak Jogja, ternyata lebih tinggi, sehingga abang becaknya harus mengangkat bagian belakang becaknya sedikit untuk memudahka penumpang saat naik dan turun. THAT'S SO TRICKY! Gw dan nyokap heboh sendiri pas naik di atas becak!

Oke, persoalan becak selesai, sekarang kami menuju ke Keraton.



....yang sedang tutup karena tanggal merah. Lucu.

Daripada langsung pulang ke hotel, kami pun berkeliling dulu di sekitar Malioboro situ. Singgah ke pusat batik dan pabrik dagadu (katanya). Nah, untuk makan malam, nyokap menemukan sebuah situs di internet, dan juga berbekal referensi dari sebuah acara kuliner di TV, sebuah tempat makan bernama Mangut Lele Mbah Marto.

Nah, dari alamat yang di dapat di internet, kami mencari tempat makan tersebut. Katanya patokannya adalah kampus ISI, lalu masuk ke jalan-jalan kecil. Ketika jalannya sudah mulai meragukan, diputuskan untuk bertanya pada warga sekitar. Jawabannya SUNGGUH membantu:

"Mbak putar balik dulu. Di depan lampu-lampu itu ada jalan masuk, masuk ke situ. Terus lurus aja, lalu ke arah barat...selatan."


Seisi mobil terdiam, berusaha mencerna arah yang dimaksud.

Ternyata letak si MLMM (mangut lele mbah marto) itu benar-benar di dalam desa! Jalanannya cuma satu arah, bahkan masuk ke tempat makannya pun harus jalan kaki, karena letaknya di dalam gang yang kecil. Sampai di sana, sambil nyokap memutar arah mobil, bokap turun untuk bertanya.

B: 'Pak, benar di sini tempat makan itu? Yang...mangut...magut...'
M (mas-mas): 'Yang tempat makan lele?'
B: 'Iya pak! Mangut lele mbah...mbah...'
M: 'Mbah marto?'
B: 'Naaaah! Bener pak! Bener di sini pak?'
M: 'Oh iya bener di sini.'
B: 'Di sebelah mana ya pak?'
M: 'Di sebelah sana, tapi udah tutup nak. Cuma buka sampe jam 9.'

Sekembalinya di mobil,

Bokap: 'BILANG AJA DARI TADI KALO UDAH TUTUP, PAKE LAMA LAGI!!'

Yah, karena MLMM sudah batal, jadinya kami keluyuran Jogja jam 10 malam nyari-nyari tempat makan selain bar-bar yang masih buka. Solusi terakhir adalah, cari tempat makan di dekat UGM, karena kemungkinan masih buka. Untungnya dapat, di sebuah rumah yang merangkap homestay dan resto. Steaknya enak, untungnya.

Day 2 vacation.
Day 1 Jogja.

THE END

There and Back Again: Jogja-Jakarta by Car, day 1

on Monday, August 23, 2010
Hari senin lalu, tepatnya tanggal 16 Agustus 2010, gw sekeluarga memutuskan untuk liburan bersama ke Jogjakarta. Liburannya sebenarnya hanya sekitar 3 sampai 4 hari, tapi yang membuat liburan ini lebih esensial adalah karena kami menggunakan mobil untuk sampai ke Jogja. Dan jangan salah, bukan sekedar mobil angkutan atau apapun, tapi mobil pribadi, yang berarti kami nyetir bergantian sepanjang perjalanan.

Hari pertama adalah hari perjalanan. Bisa dibilang hari itu benar-benar dihabiskan di jalan. Seharusnya kami start jalan sekitar jam 9 pagi, biar masih bisa melihat pemandangan sepanjang perjalanan, tapi karena packingnya baru hari senin itu, makanya waktu keberangkatan tertunda sampai jam 11 pagi.

Untuk urusan tol, dari BSD sampai tol Cikampek, itu adalah bagian gw. Kenapa? Karena bisa dijamin, dari segi skill, untuk trek-trek berikutnya ga mungkin bisa gw yang bawa. Oh ya, kami tidak lewat jalur Pantura, yang berarti kami tidak memasuki Jogja dari arah Semarang. Kami melewati jalur selatan, toh Jogja juga letaknya di selatan.

Oke, sampai keluar Cikampek masih oke-oke saja. Tapi begitu kami akan memasuki jalur yang menuju ke Bandung, terjadilah HUJAN RAKSASA, MUHAHAHAHAHAHAHAHAH!!
Gw sangat gugup karena jarak pandang tinggal beberapa meter, tapi untungnya co-driver gw (bokap) memberi komando yang sangat oke sehingga hujan pun tak masalah.

Tjatatan: mobil yang digunakan adalah Toyota Rush. Sesungguhnya tidak direkomendasikan untuk perjalanan ini, karena agak kurang nyaman. Disarankan Toyota Fortuner, Land Cruiser, atau Jeep serta mobil-mobil ber-cc besar dan diperuntukkan untuk berjalan jauh.

Setelah keluar tol, kami mulai memasuki jalanan kota yang cuma 2 arah, dengan masing-masing satu jalur dan...TIDAK MULUS. Nah, beberapa saat setelah keluar tol, gw gantian dengan nyokap. Jalanan mulai menanjak, dan mulai banyak belokan-belokan tajam. Karena belum makan siang, maka kami pun singgah dulu di restoran Pak Asep Stroberi. Tempatnya oke loh! Kalo mau, selain makan kita juga bisa berkuda, berperahu, dan flying fox. Mejanya yang super luas membuat keluarga kecil seperti gw dan bokap-nyokap terlihat seperti lagi berantem...

Makanannya biasa aja, tapi emang resto itu lebih menjual suasana, karena bentuknya yang mengikuti kontur lereng, lalu penataannya yang alami, juga pemandangannya yang langsung menghadap undakan sawah...entah milik siapa.

Setelah makan, kami pun melanjutkan perjalanan. Karena daerah selatan ini berada di sebelah gunung, maka jalannya super berkelok-kelok. Ditambah cara nyetir nyokap gw yang agak barbar, gw cuma bisa menatap kosong tebing di sebelah kiri gw dan bus-bus serta truk-truk besar di sebelah kanan gw sambil berdoa.

Nah, dikarenakan cara nyetir nyokap yang beresiko itu, dan ditambah dengan gw yang udah mengeluh ini itu, maka gantian. Sekarang giliran bokap yang nyetir. Sepanjang jalan itu beberapa kali gw bertemu dengan bus berlabelkan Budiman, yang nampaknya menguasai jalur selatan tersebut. Dan lagi mulai bermunculan iklan-iklan resto Pringsewu, yang sering memberikan harapan palsu.

Kenapa harapan palsu? Contoh: misalnya ada orang yang lagi jalan di situ, dan ternyata sudah mau buka puasa. Iklan-iklan Pringsewu itu bertuliskan 'GURAMEH GORENG', dan si orang tersebut pun dengan semangat memacu mobilnya agar bisa berbuka di Pringsewu. Tapi...setelah dilihat baik-baik lagi iklannya....

'GURAMEH GORENG. PRINGSEWU.....44 KM.'

Semakin malam, jalanan semakin sinting. Mulai lah berkeliaran para kontainer dan truk-truk super gede itu, yang jalannya super lama dan muatannya super ngeri (gelondongan kayu, batu, tanah, dll). Jalurnya cuma 2. Trek ini memang diperuntukkan untuk bokap gw yang udah terbiasa nyalip-nyalip di jalan.

Lalu ada satu daerah, dimana untuk beberapa ratus meter, kiri kanan kami hanyalah ilanlang tinggi, hutan, dan sawah. Tanpa lampu. Biasanya di tempat seperti itu, bisa diperhatikan bahwa gw mendadak semakin cerewet dan volume suara gw bertambah. Ini berguna untuk menghilangkan rasa takut. *mengangguk bijak*

Tjatatan: melewati perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah bisa dirasakan dengan sangat jelas. Jalanan di Jabar itu mulus, adem, asik, kinclong. Begitu masuk Jateng, jalanan mulai keriting, berlubang, bolong...banyak dah! Jadi harus lebih hati-hati.

Satu lagi, jangan selalu percaya kalo melihat rambu-rambu bertuliskan 'JALAN ALTERNATIF MENUJU...' Biasanya jalan tersebut justru lebih jauh, dan lebih rusak.

Melewati kota-kota seperti Garut, Tasikmalaya, Magelang...akhirnya kami mulai memasuki D.I. JOGJAKARTA! WOHOOOO!!!
Ehm...baru provinsinya. Belom kota Jogjanya, yang ternyata masih jauh -___-

Akhirnya, setelah salah jalan satu kali, kami pun sampai di MALIOBORO, letak hotel kami, yaitu Hotel Mutiara. Kami tiba sekitar jam 11 malam, lalu langsung makan malam di lesehan-lesehan yang banyak di Malioboro itu. Oh ya, bokap malah sempat dibikinin sketsa mukanya...yang setelah jadi malah mengherankan.

Bokap gw yang aslinya sangat bermuka Ambon, jadi terlihat seperti orang Jawa. Lucu sih, tapi ga mirip, hahahahah...


Tjatatan: kota-kota yang dilewati adalah Bandung, Tasikmalaya, Ciamis, Gombong, Kebumen, Purworedjo, Jogja.

Okay, that's day 1. Super cape di jalan, tapi tidurnya paling pol, hehehehe.
To be continued on next post...