Tentang film dan kreativitas.

on Thursday, September 24, 2009
Pasti banyak dari kalian udah nyadar tentang hal ini: jaman skarang, kebanyakan film adalah adaptasi dari buku.
Atau remake dari film sebelumnya.
Atau biografi seorang tokoh.
Atau komedi plesetan dari film-film populer.

Kalau di Indonesia, ga jauh-jauh dari horror.
Atau komedi porno.
Bahkan gabungan keduanya.

Gw sebagai seorang pencinta film, merasa jenuh dengan film-film sekarang seperti gw sebutin di atas. Tiap kali gw membaca ulasan film di majalah, atau info tentang satu film baru, sering gw temukan kalimat 'film yang berjudul sama dengan bukunya...'
dan gw pun membaca ulasan itu dengan setengah niat.

Bahkan film terakhir yang menang Oscar, Slumdog Millionaire itupun berasal dari buku.
Kalau memang semua film seperti itu akhir-akhir ini, hapuskan saja nominasi Best Original Screenplay dari daftar nominasi Oscar.
Karena tentu saja dengan banyaknya film yang diadaptasi dari buku, yang beken malah Best Adapted Screenplay.

Satu hal lagi yang menjadi kebiasaan adalah film biografi.
Dan biasanya, kalau kita perhatikan dengan baik, film-film biografi akan meluluskan aktor/aktrisnya ke jajaran nominasi Oscar.
Dan pada akhirnya menang.
Contoh saja:
Forest Whittaker dalam Last King of Scotland memerankan Idi Amin yang diktator.
Marrion Coutillard dalam La Vie en Rose memerankan seriosa Edith Piaf.
Ben Kingsley dalam Gandhi memerankan Mahatma Gandhi.
Mereka semua memenangkan Oscar untuk kategori Best Actor/Best Actress.

Hal ini bisa dimaklumi, karena untuk memerankan seorang tokoh yang terkenal, seluruh skill dan kemampuan akting sang aktor/aktris diperlukan.
Tidak cuma dengan bagaimana ia memandang kemudian mempresentasikan karakter yang ia perankan melalui aktingnya, namun sejauh mana ia berusaha merubah dirinya menjadi karakter yang ia perankan.
Sekedar selingan, gw menyayangkan aktor Joaquin Phoenix tidak memenangkan Oscar lewat perannya sebagai Johnny Cash di Walk The Line. Padahal Phoenix sendiri adalah aktor yang sangat berbakat, dan memerankan Johnny Cash dengan baik.

Hmm..
Ide-ide cerita baru mungkin memang sulit untuk didapatkan. Atau mungkin idenya ada, tapi sudah terlalu klise atau tidak bisa dituangkan ke dalam tulisan/skrip.

Mengadaptasi buku menjadi film juga bukan berarti tanpa tantangan.
Mengubah suatu fantasi abstrak yang berbeda di kepala tiap orang menjadi satu gambaran objektif itu ga gampang.
Hal ini gw sadari dan gw temui saat sedang membaca The Reader.

Saat membaca buku itu, gw sama sekali belum menonton filmnya.
Sementara nyokap gw, malah sudah menonton filmnya tapi belum membaca bukunya.
Kebetulan buku yang gw baca itu berbahasa Inggris, jadi butuh waktu agak lama untuk membacanya.

Setelah gw selesai membaca, nyokap gw pun mulai bertanya ini dan itu. Dia bertanya apakah ada adegan ini di buku itu, apakah ada penjelasan dari adegan ini di buku itu, dll.

Setelah terjadi sinkronisasi antara buku dan film melalui diskusi nyokap dan gw, gw pun menangkap tantangan untuk mengadaptasi buku ke film.
Emang susah, tapi disitulah tantangannya dan adu skillnya.

Tantangannya adalah bagaimana menghidupkan semua adegan yang di buku itu.
Kalau tidak ahli, jadinya seperti Harry Potter saga.
Ini juga disebabkan karena bukunya sudah terlalu populer, dan harapan penonton terlalu tinggi atas filmnya.

Sementara untuk film-film Indonesia...
Sebenarnya tidak ada yang bisa disalahkan.
Sutradara seperti Joko Anwar sudah berusaha memasukkan dan mengenalkan genre film baru bagi penonton Indonesia. Namun karena faktor budaya, pendidikan, dan selera, filmnya kurang laku di pasaran.
Atau film seperti Merah Putih.
Mungkin beberapa orang memandang film itu sebelah mata, dan berkomentar 'film itu bagus karena krunya dari luar negeri'.
Tapi justru itulah yang dibutuhkan.
Pada awalnya orang tidak bisa langsung bisa membuat film bagus dan keren.
Selain butuh uang yang banyak, juga butuh pengalaman.
Pengalaman itu bisa diperoleh seperti film Merah Putih tadi.
Dengan mengandalkan kru dari luar negeri, kita bisa belajar bagaimana menciptakan film perang yang bagus, menggunakan efek-efek yang keren, dll.

Film sendiri menurut gw memiliki 3 tipe yang menonjol.
Tipe 1: film yang mengandalkan kualitas akting dari para pemainnya. Film-film begini bisa masuk nominasi Best Actor/Best Actress. Contohnya: Gladiator, One Flew Over the Cuckcoo's Nest.
Tipe 2: film yang ceritanya memang bagus, dan film itu mengandalkan ceritanya yang kuat sebagai daya tarik utama. Contoh: Slumdog Millionaire, Lord of the Rings.
Tipe 3: film yang ceritanya kuat dan didukung oleh aktor/aktris yang bagus pula. Contoh: The Godfather.

Hmm..
Sepertinya sekian dulu postingan gw kali ini.
Serius banget kayaknya....=='
*ini dia kerjaan orang yg jenuh liburan*
Yasudah, ik selesaikan di sini aja.

0 comments: