I'll post some more next time

on Thursday, September 8, 2011
Cuma selingan.
Sekaligus penanda bahwa gw bakal aktif kembali di dunia blog ini.



It's Gone

on Wednesday, August 3, 2011
Dengan ditemani lagu Kings and Queens dari 30 Seconds To Mars (biar ga sedih), gw akan menceritakan sebuah peristiwa yang sangat memukul gw.




Hape gw.....






Hilang. Dicopet.





Yang hilang:
1. satu buah iPhone 4
2. satu buah Blackberry Gemini putih
3. satu buah iPod classic hitam


Kenapa sebanyak itu yang hilang?

Karena gw taronya dalam satu tempat. Dan setempat2 itu hilang dicopet.


Jadi ceritanya gw lagi mau main mobil2an di Timezone SMS. Trus gw lagi mau gesek kartunya, si tempat hape itu gw taro di sebelah gw. Nempel di pantat gw.
Abis gesek, udah ga ada.






Gw....nangis.

Rasanya kayak patah hati. Selama tiga hari pertama, gw bangun dari tempat tidur, dan bengong. Bengong mikirin 3 benda yang hilang itu.
Ke mana-mana, kepikiran mulu, kayak abis diputusin pacar.
Ke mall, jadi kepikiran: "Yah, kemaren gw ke sini masih ada si iPhone..."
"Yah, kemaren gw naik bus bisa dengerin iPod..."
"Yah, baru aja kemaren ngobrol seru di BBM sama temen..."







Sekian.
Sakit hati kalo diinget-inget lagi.

-

on Saturday, July 30, 2011
Love is a disease. It's a plague.

When one caught by love, or living with love, they infect it to others.
When one desperate over love, other share the same feeling.
When one have a lover, other hungers for it too.

Yet the heart, is the best medicine. The best friend, the best consultant.
Go ask your heart, are you deserve love?
Are you need love?
More important, are you ready to love?


Because, after all, love deals with heart.

Saya. Takut. Hantu.

on Friday, July 15, 2011
SIAPA YANG SUKA NONTON FILM, UNJUK JARI (KAKI)!!

*naikin jari kaki*


SIAPA YANG SUKA NONTON FILM HORROR, UNJUK JARI (KAKI)!!

*naikin jari kaki lagi*



Ya, intinya gw suka banget nonton film horror.
Walaupun nantinya, selama nonton film tersebut, hanya setengah layar yang berani gw liat.
Kalo film horror barat atau Jepang atau Thailand, berarti yang berani gw liat cuma teks terjemahan.

Kalo kata nyokap gw,

"Ih, ngapain nonton film horror? Mau aja bayar bioskop atau DVD buat ditakut-takutin!"

Itulah pandangan bijak seorang ibu-ibu 46 tahun, berprofesi pengacara, dan tidak percaya Tuhan....eh...hantu, maksud gw.

Kenapa oh kenapa, kalo dipikir-pikir, orang mau membayar mahal buat nonton film horror?

Yaaaa, coba tanya aja sama seluruh penonton film horror di dunia ini.
Tanya aja sama si pembuat filmnya.
Tanya aja sama orang-orang yang cukup sinting mau beli DVD original film-film horror.

Intinya, film horror itu MENARIK.
Film horror itu BIKIN PENASARAN (isi ceritanya juga tentang hantu penasaran).
Film horror itu MEMACU ADRENALIN.
Film horror itu LAKI. --> iklan banget #lupakan


TAPI SESUNGGUHNYA, BUKAN ITU INTI POSTINGAN HARI INI!


Gw sebenarnya mau cerita tentang pengalaman gw masuk ke wahana Ruang 13 di Summarecon Mall Serpong (SMS).



Hari itu sebenarnya gw ga ada rencana masuk ke wahana terkutuk itu. Gw cuma mau ketemuan sama temen lama gw, Vernita, trus nemenin dia nyari sesuatu di mall.
Saat keluar dari mall, yang terpampang di depan mata adalah si wahana Ruang 13 itu.

Nah....

Karena terdorong rasa penasaran yang (bisa dibilang) labil, kami pun memutuskan untuk masuk ke wahana tersebut.
Lalu kami pun membeli tiket.
Dan mengantri.

Hm.

Sampai di depan pintu wahana, kami baru menyadari bahwa kami cuma berdua. Untungnya, batas maksimal masuk ke wahana itu adalah 6 orang.
Di belakang kami berdua ada 3 anak kecil. Palingan masih 10-11 tahun. Nah, karena mereka juga takut, jadi kami memutuskan bahwa ada baiknya kita masuk berlima.

Dan....giliran kami-lah masuk ke dalam.












Gw.

Takut.




GW KETAKUTAN LUAR BIASA GAPAKE BOHONG, GAPAKE SAMBEL, GAPAKE JENGKOL!!


Di dalam wahana itu, isinya adalah 13 ruangan di mana masing-masing ruangan berisi bermacam-macam hantu. Kalo di posternya sih bilang, "apakah ada ruang ke-13?"
Tapi yaaaa, secara gw di dalam kerjanya cuma teriak-teriak doang, mana sempat gw hitung??!

Masuk pertama kali, yang langsung menyerang gw adalah BAU MENYAN.
Gw. ga. suka. bau. menyan.
Detik itu, mood gw langsung drop. Lantas, tiba-tiba, dari dinding di sebelah kanan gw, ada yang ngetok keras banget. Ceritanya mau bikin kaget. Tapi mungkin karena gw juga sering mukul-mukul tembok, jadi gw ga kaget.

Setidaknya belum.

Nah, berikutnya...yang gw ingat hanyalah:


WAAAAA!!!

WANJENG, GW KAGET!!!

GRAAAAAAAAH!!

HUWOOOOOOH!!

KYAAAAAAA!!

WANJRIT, GAMAU GW LEWAT SINI, PLIS-PLIS, GAMAU GW DEMI TUHAN, GAMAUUUUU!!

HUWAAAAAH!!


MAAAAAAMAAAAAAA!!!



Begitulah.

Gw salut banget sama si Vernit yang dengan bijaknya dan dengan insting keibuannya, menuntun 3 anak parasit yang nempel sama kita itu, dan sedikit banyak membuat dia ga takut (karena sibut merhatiin mereka).

Sementara gw?

Di dalam ruangan itu, gw adalah seorang wanita (tolong dicatat, WANITA) 20 tahun yang reaksi ketakutannya setara anak 10 tahun.

Di dalam ruangan itu, segala macam hantu ADA.
Ada kuntilanak, pocong, hantu cewe jaman kolonial, hantu yang hobi nakutin di pojokan, suster ngesot (!!!!!), hantu-ga-jelas-pake-baju-pengantin, hantu-sama-ga-jelasnya-bawa-bawa-pisau, mayat hidup (tiduran kayak mati tapi tiba-tiba bangun), dkk dll.

Yang paling gw benci adalah bagian ini:


Tanda tengkorak menunjukkan lokasi hantu, panah menunjukkan arah gw harus berjalan, dan yang berwarna hijau adalah (semacam) jerami-jerami bau yang ditebar di situ, entah dengan maksud apa.

Sesuai gambar, lorong itu SEMPIT.
Dengan jerami-jerami yang ditebar itu, gw sudah bisa menebak apa yang akan muncul dari samping.

TANGAN!
Tepatnya TANGAN SI HANTU!
MENJULUR!

MERABA-RABA KAKI GW!!


Gw.
Ga.
Suka.
Kaki.
Gw.
Dipegang.
Pegang.


Hantu yang paling gw takuti itu adalah Suster Ngesot. Dulu, setelah nonton film Bangsal 13, gw ga bisa tidur selama 5 malam, gara-gara keingat film itu.
Tiap malam gw terbangun cuma buat ngintip ke arah kaki gw, ada yang pegang-pegang atau nggak.

Gw sampe mohon-mohon ke si Vernit saking takutnya gw lewat di situ, tapi karena aturannya "once you're in, you have to finish the game" (dan kepikiran HTM yang udah dibayar), maka gw pun memberanikan diri.

Gw lari.
Lari sekuat tenaga.
Sampai, entah gimana, gw jatoh.
Dan gw pun merangkak, karena gw ga mau membuang waktu di situ, memberi kesempatan si hantu buat menggrepe-grepe kaki gw.


Tapi gw rasa aturannya adalah si hantu ga boleh pegang-pegang, karena refleks tiap orang beda-beda. Gw adalah tipe orang yang kalo dipegang dalam keadaan seperti itu, gw akan mukul. Atau menendang.

Lari sambil berteriak-teriak dan jantung yang terpacu ternyata bikin CAPEK.
CAPEK bukan main, sampe ngos-ngosan.
Akhirnya, sampai di satu ruangan, kita stop dulu. Ambil napas, istirahat sebentar.

Di ruangan itu tentu saja ada hantunya.

Hantu: "Huaaaaah!"

Gw, Vernit, dan 3 anak 10 tahun: "Bentar dong, bentar! Cape nih!"

Hantu: "Rrrrrraaaaagh!"

Kita berlima: "SSSSTTT!!!"


Gara-gara capek, kita malah nyuruh di hantu diam. Soalnya, selain udah ga nakutin lagi, hantunya juga aneh gitu: semacam mumi gagal yang jalannya agak miring.


Pada akhirnya, gw dan yang lain berhasil menyelesaikan wahana itu.
Seru sih, wahananya. Mungkin kalo diajak lagi......gw ga akan mau. Cukup sekali aja.

Yang menarik adalah, walaupun gw sudah takut setengah jidat di situ, tapi malamnya gw ga kebawa-bawa di mimpi.
Gw tetap bisa tidur dengan nyenyak, ga seperti habis nonton film horror.


Oh ya, kata si Vernit, muka gw pucat banget saat keluar dari wahana itu.
Jadi, faktanya adalah:

Gw beneran takut hantu.

Tapi....

Ga lebih besar dari ketakutan gw pada kecoak.




Adios,
Georgine.

Gw Hidup, Loh!

on Friday, June 10, 2011
CTERRRR!!!


GW NGEBLOG LAGEEEEH!



Jujur sejujur-jujurnya, gw nulis ini juga agak maksa, karena dorongan ngeblog gw belum sebegitu besarnya. Tapi karena gw ga tau mau ngapain sekarang, mendingan gw melakukan sesuatu yang produktif, yaitu menulis.

Apa saja yang terjadi selama hampir satu bulan yang lalu?

UAS.
Ini satu hal yang pasti.

Hasilnya?

MENGECEWAKAN.

Intinya, untuk pertama kalinya dalam hidup gw, gw merasa sudah mengacaukan hidup gw.
Lebay sih.

Intinya nilai-nilai gw kurang memuaskan, dengan sebab2 yang gw sendiri ga faham kenapa. Mata kuliah yang udah gw pelajari mati-matian, gw kerjain sepenuh jiwa raga dan kepercayaan diri tinggi, tau-tau cuma dapat C.


TAHI, SAUDARA-SAUDARA, TAHI BENAR HASIL UJIAN TERSEBUT!!

Dan seperti biasa, kalo dapat hasil yang jelek ini, gw terbiasa menyalahkan hal tersebut pada fakta bahwa gw sebenarnya ga minat-minat banget di hukum, karena minat gw itu di seni, terutama film.
Self-denial? Mungkin aja.


SUDAHLAH. Dijadikan pembelajaran dan evaluasi saja. Gw sudah pernah menghadapi yang lebih berat dari ini.


Gw sebenarnya sudah super rindu buat nulis review film, terutama film-film musim panas yang super oke.
Tapi oh tapi, kenyataannya adalah film2 Hollywood masih dilarang masuk ke Indonesia. Di Twitter dan di manapun sudah ditulis kalo masalah ini sudah selesai, tapi toh di bioskop-bioskop belum ada film-filmnya.
Di TV belum tercantum tanggal mainnya.

Padahal....
Gw udah sampe terpaku liat trailer Harry Potter 7 part 2...
Gw udah ga sabar melihat kegantengan Ryan Reynolds di Green Lantern (sekalian mencari tau sebenarnya si Lentera Ijo itu kehebatannya apa)...
Gw kangen liat si Po di Kungfu Panda 2...


AAAAAA, SUMMER MOVIEEEES!!!



*tersadar kalo postingan ini sudah mulai random

Ya udah deh.
Sampai postingan berikutnya.


Salam dombret,
Georgine

Silencio

on Tuesday, May 17, 2011
In silence I found peace.

In silence God speaks to me.

In silence anger swallowed.

In silence I finally found you.





Just finished watching the latest episode of CSI 11 on AXN...if you know which episode.

Memori Masa Kecil, Part I

Masih agak terpengaruh postingan sebelumnya, gw tiba-tiba keingat dengan benda-benda masa kecil gw. Beberapa dari itu memang meninggalkan kesan yang dalam, dan gw rasa kalo gw bisa ketemu sama benda-benda itu lagi, gw bakal nangis terharu kayak artis sinetron menangisi nisan random di pekuburan random.

Jadi inilah beberapa:


1. Betty Spaghetty

Gw ga tau ada yang pernah mainin ini ga, karena sejauh ini kalo gw tanya-tanya temen gw, pada gatau mainan apa ini.....yang ujung-ujungnya gw diejek: "Kayaknya mainan di Sulawesi beda sama di Jawa, terutama Jakarta, Geb..."

ENAK AJE! INI DIBELI DI JAKARTE TAU!

Waktu kecil gw nyaris ga pernah main Barbie. Gw lebih suka main si Betty Spaghetty ini. Jadi si Betty ini disediakan terpisah-pisah gitu. Ada asesoris rambut, gelang, sepatu, kaos kaki, tas, dll. Nama 'spaghetty' itu karena rambutnya agak mirip spaghetty.

Ga seperti Barbie, si Betty ini tangan dan kakinya bisa dicopot dan diganti-ganti juga. Jadi misalkan anda-anda mau membuat Betty berkulit putih sekaligus hitam, tukar aja tangan kiri/kanannya sama tangan temennya yang berkulit gelap.












2. Polly Pocket

Untuk mainan yang ini, rupanya lumayan banyak yang tau, jadi gw ga merasa terlalu terasing (yaiyalah! Wong semua dibeli di Jakarta!).

Jadi mainan ini tuh berupa boneka kecil-kecil, ada yang cewe ada yang cowo. Ukurannya mungkin cuma....se-apa ya? Se....se...se-iprit? -->ga menjelaskan.
Pokoknya kecil banget dah.

Dulu gw punya mainan ini sampe empat biji. Tiga yang sejenis gambar di bawah, dan satu berbentuk komplek perumahan si Polly, yang segede-gede gaban dan Polly-nya bisa digerakin pake magnet. Gambarnya udah gw cari-cari sampe kayang, tapi ga dapat, jadi ya maap kalo ga bisa dibayangin.




3. Buku-buku Richard Scarry

Satu komentar buat buku ini: SUPER LUCU! Sampai sekarang kalo gw baca, gw masih suka ketawa-ketawa sendiri liat gambarnya. Nama-namanya juga aneh, terutama tokok utamanya, yaitu Hakul.


Aneh kan?

Buku ini sama seperti buku anak-anak pada umumnya, yang isinya mengajarkan anak kecil tentang ini dan itu. Tapi agaknya buku ini untuk anak di atas lima tahun, minimal yang udah bisa baca lancar, karena kata-katanya banyak, dan gambarnya juga udah cukup ribet (untuk ukuran balita).

Setelah kepindahan gw dari Makassar ke Jakarta, buku-buku Richard Scarry milik gw ilang semua entah ke mana. Kata bokap gw sih, dikasih ke orang, tapi gatau juga. Untungnya, karena gw cukup rajin datang ke pameran buku, gw akhirnya bisa nemu satu kopi bukunya (yang langsung gw beli ga pake ragu, ga pake nawar harga).













4. Seri Miki Mungil

Buku ini adalah salah satu buku yang membuat belajar agama atau memahami Alkitab jadi lebih mudah.

Jadi buku ini bertipe 'seek and find'. Di dalamnya, digambarkan suatu ilustrasi cerita yang diambil dari Alkitab. Nah, di tiap gambar dan peristiwa itu, kita harus mencari si Miki, si tokoh utamanya itu. Entah itu dia lagi duduk, lagi nangkring di mana, pokoknya dia tersembunyi di gambar itu. Selain nyari si Miki, kita juga harus mencari gambar-gambar lain yang diperlihatkan penggalannya di sisi kanan buku. SUPER SERU!

Gw bener-bener kagum sama penulis dan ilustrator buku ini, Carl Anker Mortensen. Gambar-gambar di bukunya benar-benar padat, detil, dan full color! Empat jempol buat mas Mortensen.




5. Ducobu

Satu lagi komik Perancis favorit gw setelah CRS, Asterix, dan Tintin.

Komik ini bercerita tentang Ducobu, seorang siswa SD di Perancis yang gobloknya ga kira-kira. Ducobu selalu membuat wali kelasnya stress, karena selain nilainya yang tidak pernah bagus, ia juga hobi menyontek teman sebangkunya yang kebetulah pemilik nilai tertinggi di kelas.
Keseharian Ducobu diisi dengan perjuangannya mencari cara-cara untuk menyontek, atau cara curang lainnya agar nilainya bagus.

How I love French comic!










Hm, postingannya udah agak panjang.
Lanjut nanti deh!
*tambahin 'part 1' ke judul blog*


....to be continued.

Dua Puluh

on Monday, May 16, 2011
Menurut gw, berumur 20 adalah hal yang besar.

Beda dengan ulang taun ke-10, ulang tahun ke-20 membawa gelombang kesadaran (cieh!) yang besar bagi gw. And thank God, dengan bertambahnya umur menjadi dua dekade ini, gw semakin mengenal diri gw sendiri.
Gw juga mulai mengingat-ingat apa saja yang sudah gw alami 20 tahun terakhir, siapa gw dulu dan sekarang, dan apa yang gw inginkan--ga usah jauh-jauh--satu tahun ke depan.
Dan tiba-tiba, dengan impulsifnya, muncullah tulisan ini.

Bukan maksud pamer ato apa, ini cuma bentuk kesadaran gw dan ucapan selamat ulang tahun gw...kepada diri gw sendiri.


Halo!

Nama saya Georgine Bianca Avella Sahetapy.
Ga usah ribet, panggil aja Gebi. Kalo mau tau, nama pertama saya diambil dari buku Lima Sekawan. Nama kedua saya dari buku Tintin.

Saya orang apa? Yah, sebut saja orang Indonesia. Ayah saya campuran Belanda-Ambon. Ibu saya campuran Cina-Ambon. Saya lahir di Manado, tinggal 12 tahun di Makassar. Tiga tahun di Jakarta, sekarang domisili KTP di Tangerang, Banten. Senin sampai Jumat saya di Depok, Jawa Barat.

Satu kata yang mendeskripsikan hidup saya selama ini?

Nomaden!

Saya lahir saja di Manado. Umur 2 bulan, saya kembali ke Makassar. Di Makassar sendiri saya pindah berkali-kali.
Pertama di rumah oma dari ayah. Rumah tua yang gelap, kalo malam banyak kecoak. Di sana saya dikelilingi berbagai mainan. Dari mainan beneran sampai botol bekas. Oma saya itu suka bikin kue; jago masak. Saya paling rindu sup makaroninya.
Di sana saya tidak punya teman, kecuali mainan dan pembantu.

Kedua saya pindah ke komplek perumahan.
Tempatnya asik, di sana banyak teman seumuran. Di situ saya belajar naik sepeda. Di situ juga saya jatuh terseret di aspal, sampai-sampai kedua lutut dan siku saya berdarah. Di situ saya pergi menangkap ikan di sungai kecil, pakai tudung saji.
Di situ pertama kali saya memukul orang sampai menangis. Di situ saya kehilangan mainan robot Power Ranger saya. Di situ saya suka bermain dengan boneka dinosaurus saya. Di situ saya mulai mengoleksi buku-buku.

Ketiga, saya pindah ke rumah oma dari ibu saya.
Rumahnya besar, luas, terang, dan ramai. Tapi buku-buku saya tidak bisa ikut, jadi saya cukup sedih. Mainan saya juga tidak muat, jadi ditinggal. Saya sedih karena kurang mainan. Mungkin itu alasan saya tidak terlalu ingat kenangan di sana.

Keempat, saya pindah dari Makassar ke Jakarta setelah lulus SD. Ke rumah sempit di Jl. Kesehatan, Jakpus. Rumahnya benar-benar kecil. Dari pintu depan, langsung kelihatan dinding belakang rumah. Selama satu tahun di sana, bajaj menjadi kendaraan sehari-hari saya pulang-pergi sekolah.

Kelima, saya pindah ke daerah Percetakan Negara, Jakpus, saat kelas 2 SMP. Banyak cara ke sana, tidak cuma dengan bajaj. Bisa naik bis NE 2, bisa naik Transjakarta. Di sana saya sempat ikut Taruna di gereja terdekat. Menyenangkan juga.
Saya ingat di sana saya suka berlatih tenis dengan tembok. Dua pot tanaman sudah jadi korban. Saya lumayan suka di sana, karena seperti waktu di komplek, banyak teman seumuran.

Keenam, saya pindah ke BSD setelah diterima di SMA Santa Ursula BSD.
Dulu rasanya BSD letaknya di ujung dunia. Sekarang, 20 kilometer tidak ada artinya.
Saya suka di BSD! Untuk pertama kalinya saya bisa bersepeda ke sekolah, atau kadang juga jalan kaki. Sepulang sekolah saya bisa singgah dan main ke rumah teman. Ke mana-mana jalan kaki. Untuk pertama kalinya dalam seumur hidup saya, saya merasa betah dan tidak ingin pindah lagi.

Ketujuh--kalau bisa disebut pindah--saya kos di Depok.
Awalnya saya ingin pulang-pergi saja, tapi rupanya jarak BSD-Depok benar-benar tidak memungkinkan. Naik kereta ribet. Naik bis harus berkali-kali. Nebeng repot. Nyetir sendiri? Berat di bensin, menguras habis tenaga.
Tapi setidaknya, unsur favorit saya ada di sana: teman. Selama ada teman, saya tidak akan banyak mengeluh.



Kesukaan saya?
Banyak! Saya sebutkan saja yang mungkin agak tidak biasa.

Saya suka dan mengoleksi sendok. Haha.


Saya juga suka mengoleksi kartu hotel. Teman-teman saya pasti sudah tahu, kalau mereka pergi ke mana-mana, oleh-oleh yang saya minta pasti kartu hotel.


Saya suka sejarah. Mulai dari mitologi yunani, sampai novel-sejarah.


Saya suka puzzle. Dan mungkin, sisi feminin saya bisa terlihat dari hobi saya terhadap cross-stitch dan merajut.

Suka gadget.

Suka menulis, suka membaca, suka dengar lagu. Standar lah.


Role model saya?
Tidak lain tidak bukan: ibu saya.


Kalo hewan?
Suka semua hewan kecuali jenis-jenis serangga.
Takut kecoak.


Sifat?
Spontan. Keras kepala. Tukang ngatur. Bawel. Banyak mau, banyak komentar.
Impulsif. Tidak sensitif. Tomboy, riang, optimis.
Moody. Ekspresif. Manja.
Saya juga sekalian minta maaf buat mereka yang merasa saya kurang pengertian. Saya memang tidak sensitif, tapi sedang diusahakan untuk lebih sensitif.


Hobi?
Nonton film, berimajinasi.
Dengar lagu, bernyanyi.
Ngobrol, membuat lelucon, tertawa.
Berselimut, memeluk bantal, makan.
Banyak lah.


Ya, kira-kira begitu saja dulu.
Salam kenal, Georgine!


Sincerely,
Georgine Bianca

Tentang Saya dan Buku

on Sunday, May 8, 2011
Akhir-akhir ini gw lagi sering banget dengar ungkapan:

"Gw kangen sama diri gw yang dulu."

Atau kerennya:

"I miss the old me."


Kenapa semua orang merindukan masa lalu? Ya karena masa lalu memang cuma bisa dirindukan!
Kalau masa kini? Ya dijalani.
Kalau masa depan? Ya dinanti.

Nah, tadi pagi ketika sarapan, gw dengan random-nya tiba-tiba tersadar dengan fakta bahwa umur gw udah 20 tahun!

DUA PULUH!
TWENTY!
ZWANZIG!
DUA DEKADE!

Fakta ini seperti menghantam gw dengan begitu kerasnya. Dalam pikiran, gw masih membayangkan diri gw sebagai seorang anak berusia 17 atau 18 tahun. Masih berusia remaja, dan masih bisa bersenang-senang.
Sekarang, dalam beberapa tahun ke depan, gw harus sudah mikir tentang kerjaan, tentang nikah, tentang nabung buat hari depan, tentang menuntut ilmu setinggi langit, tentang punya anak.....

BLAAAAAAAAAGGGGHHHHH!!!!


Gw pun mulai merindukan diri gw yang dulu.
Satu hal yang paling gw rindukan adalah menulis dan membaca.

Sedari SD, dua hal ini adalah hobi gw, di samping nonton dan menghayal.
Dulu gw pernah sok-sok bikin novel. Ceritanya mau bikin dua buku. Buku satunya udah jadi, eeeh, buku duanya mandek karena hasratnya hilang dan gw mulai sibuk ini itu.

Yang kedua, gw suka banget membaca buku. Hobi ini menurun dari nyokap gw.
Gw ingat banget waktu SD dulu, nyokap yang pertama kali memperkenalkan Harry Potter ke gw. Bahkan nyokap bacain dulu bab 1-nya, lalu sisanya gw baca sendiri.
Trus gw senangnya kayak orang gila waktu tau bukunya mau dibikin film.

Waktu kelas 2 SMP, gw pindah rumah ke daerah Percetakan Negara, di Salemba Tengah.
Waktu di situ, hampir tiap akhir minggu gw pasti ke Gramedia Matraman, soalnya deket banget.



...tempat itu benar-benar surga dunia.


Sudah informasi umum, kalo Gramed paling lengkap itu ya yang di Matraman itu. Dulu, rutinitasnya selalu begini:

Nyampe di Gramed.
Naik ke lantai dua.
Nyokap ke bagian buku hukum.
Gw ke bagian komik dan novel.
Selesai milih, gw samperin nyokap dengan membawa setumpuk komik.
Nyokap ke bagian novel bentar, ambil satu-dua buku.
Bayar.


SURGA DUNIA...


Makin dewasa, kebiasaan gw ini rupanya makin menyulitkan dan merepotkan.
Karena ortu gw nampaknya ketularan gaya hidup Arab-Sahara (nomaden), jadi tiap kali pindah rumah, buku gw sangat merepotkan untuk dibawa pindahan.
Dan lagi pasti ada yang tercecer, trus hilang entah ke mana. Bikin gw bete seharian.

Tapi yang namanya hobi ya memang ga bisa hilang begitu aja. Ini koleksi buku gw sekarang:




Ini adalah kondisi buku-buku gw sekarang, setelah disortir ketat tahun lalu (yang menghasilkan adu mulut hebat karena gw ga mau buku-buku gw diganggu gugat). Kalau buku-buku gw yang dari dulu-dulu masih gw simpan, lemari di sebelahnya juga bakal dijajal oleh buku-buku gw.

Hasrat membeli buku gw masih sangat tinggi sampai sekarang. Gramed dan toko buku lainnya juga masih jadi tempat favorit untuk gw datangi. Gw juga masih antusias kalo diajak ke pameran buku ato ada diskon buku.
Tapi entah kenapa, sekarang ini sepertinya gw ga punya waktu untuk baca buku lagi.
Beberapa minggu yang lalu gw memutuskan untuk membaca buku Paulo Coelho yang The Alchemist.
Gw benar-benar udah nyaris baca buku itu nonstop sampe begadang, kalo ga diingetin ada tugas buat besok.

Terpaksa gw taro bukunya dengan berat hati, karena gw tau belum tentu besok-besok gw punya waktu buat baca lagi.


Haaaaah....


But well, reading is still my hobby. And I still enjoy the pleasure of having a new book to read (and I never really like e-book).
So I think I'm going to use every spare time I have to read books, and again...saving money to buy books.


Gw rasa rencana ini sebaiknya dimulai sekarang, sebelum isi lemari gw berubah dari ini...





...jadi ini:





*merinding*

Which One?

on Saturday, May 7, 2011
Mana yang lebih sedih?


Melihat sebuah kertas berisi informasi anak dengan cacat mental yang hilang...

Atau sebuah kertas berisi informasi tagihan yang melonjak?



Yang mana?

Pada kenyataannya, saya menangis untuk anak hilang itu.

Goodbye!

on Saturday, April 30, 2011
Jika Tuhan menghendaki, saya akan jadi pacar kamu.
Jika Tuhan menghendaki, saya akan dilamar kamu.
Jika Tuhan menghendaki, saya akan berdiri dengan kamu di altar.
Jika Tuhan menghendaki, saya akan bercinta dengan kamu.
Jika Tuhan menghendaki, saya akan melahirkan anak kamu.
Jika Tuhan menghendaki, saya dan kamu akan merayakan pernikahan emas.
Jika Tuhan menghendaki, saya akan dampingi kamu sampai mati.

Nyatanya Tuhan tidak menghendaki.
Makanya sekarang saya menatap kamu dari atas liang lahat.

Selamat tinggal, sayang.

Quite True...

on Sunday, April 24, 2011

iseng-iseng berhadiah dari Metta:

source: link


Your view on yourself:

You are down-to-earth and people like you because you are so straightforward. You are an efficient problem solver because you will listen to both sides of an argument before making a decision that usually appeals to both parties.

The type of girlfriend/boyfriend you are looking for:

You like serious, smart and determined people. You don't judge a book by its cover, so good-looking people aren't necessarily your style. This makes you an attractive person in many people's eyes.

Your readiness to commit to a relationship:

You are ready to commit as soon as you meet the right person. And you believe you will pretty much know as soon as you might that person.

The seriousness of your love:

Your have very sensible tactics when approaching the opposite sex. In many ways people find your straightforwardness attractive, so you will find yourself with plenty of dates.

Your views on education

Education is very important in life. You want to study hard and learn as much as you can.

The right job for you:

You have plenty of dream jobs but have little chance of doing any of them if you don't focus on something in particular. You need to choose something and go for it to be happy and achieve success.

How do you view success:

You are confident that you will be successful in your chosen career and nothing will stop you from trying.

What are you most afraid of:

You are afraid of things that you cannot control. Sometimes you show your anger to cover up how you feel.

Who is your true self:

You are full of energy and confidence. You are unpredictable, with moods changing as quickly as an ocean. You might occasionally be calm and still, but never for long.

HE

O Jerusalem-Greg Olsen
gregolsengallery.com



He can turn the tides, and calm the angry sea
He alone decides who writes a symphony
He lights every star that makes our darkness bright
He keeps watch all through each long and lonely night

He still finds the time to hear a child's first prayer
Sait or sinner call and always find him there
Though it makes Him sad to see the way we live
He'll always say "I forgive"


He can grant a wish or make a dream come true
He can paint the clouds and turn the grey to blue
He alone knows where to find the rainbow's end
He alone can see what lies beyond the bend

He can touch a tree and turn the leaves to gold
He knows every lie that you and I have told
Though it makes Him sad to see the way we live
He'll always say "I forgive"

music: Jack Richards
lyric: Richard Mullen


Gw benar-benar suka dengan lagu ini. Alasan yang terutama adalah karena nadanya enak, dan yang kedua adalah karena liriknya yang indah.

Kata-katanya sangat menggugah, dan kalau gw lagi nyanyi lagu ini dengan serius, biasanya gw agak tercekat di bagian 'though it makes him sad...' apalagi di bagian 'I forgive'.

Soal gambar di atas, itu adalah lukisan Yesus favorit gw. Gw punya lukisan versi kecilnya di rumah, yang entah dibeli di mana oleh orang tua gw.
Bagi gw, gambar ini memperlihatkan sisi Yesus yang sangat manusiawi: seorang pria yang duduk santai (baca: kongkow) di bukit, sambil memandang Yerusalem, dilatarbelakangi matahari terbenam.

Gw bangga dengan lukisan ini, terlebih karena gw bosan melihat berbagai jenis lukisan Yesus dalam Perjamuan Terakhir -->kalo istilah nyokap: "lukisan yang sepertinya wajib ada di rumah orang-orang Ambon yang kristen".
Yang menggambarkan Yesus sebagai gembala, lebih banyak lagi! --> karena domba mukanya mirip dengan kambing, jadi bagi gw tidak ada imut2nya atau cantik2nya hewan itu.

Gambar-gambar itu juga entah mengapa tidak membawa kesan apa2 di hati gw. Tapi gambar yang satu ini rasanya membawa rasa tenang. Warnanya yang senja, dan gaya Yesus yang santai, entah bagaimana membuat gw merasa bahwa dengan sisi manusiawinya itu, Yesus terasa sangat dekat pada gw.



SELAMAT PASKAH!

A New Life

She opened her eyes slowly and looked at the window.

There, from the small and dark cottage, she saw her own house. Grand, white, standing tall with lights still glowing from the windows.

There, the maids were sleeping, just to waken up a few hours later and prepared her breakfast. When she went downstain from her room, she'll find them rubbing all the china in one room. Sweep the floor in another. Cook. Washed her clothes. Scrub the dishes.

There, at the garden where her favorite roses bloomed. At 6, the gardener would shown up with his bicycle, to cut the grass short, took care of the flowers just as they were his daughters.

There, at the eastern side of the house, lies the library. Filled with books she's read. Her favorite painting floats on the wall of wood. Her secret chamber where she praised her solitude, or stood on the window and looked back at the cottage.

There, the chef's cooked her favorite meals. They spoke in the language of their mothers, in some ways declaring their rightful ownership of the land the house stood.
The land where she was stranger. The land she knew for only one year.

There, in the living room, a painting of herself, sitting in front of her husband. In the gray background, that absorbed all the fake smile and a marriage of politics.

There, in her closet, a picture of her beloved brother. Wise, handsome, fancied by the girls and her parent. A son every father could ever dreamed. A brother every girl could ever ask.
One perfect human's figure, damaged by an accident in one night no one could ever forget.

There, a life envied by the other housewives. The luxury of diamonds desired by all women.
When happyness measured by assets, yet left an empty hole on the bottom of her heart.


A smooth breath drag her back from her thoughts of the life she already had.
She turned her body, stared at the man. Beside her, in the bed where they spend the night holding each other's plain body.

A man, different from another she had known. With visions and passions of his young age. Future he tried to reach in the haunt of slavery.

A man, attracted to her by curiosity. One who ever asked her about her dreams and thoughts. The one who tried to give her the freedom she never had.

A man, who listened to every words she said. Argueing without demanding. Took her to magnificent places she never stood in.

A man, her people judged as maid. Live and existed only to serve those who occupied his country. Worthless, and sometimes thieves. Not to be trusted, nor to love.

A man, who put all effort he had to make her laugh. To show all the beauty the world possessed. Warmth, like no person ever shown or give. An honest love, as sincere as a child to their mother.

A man, once was her guide to the new city. Now her guide to face every day of her life. The reason she woke up from her sleep. He transformed into a channel of her to find hope and kindness in every aspect of life.

A man, no jewels could buy or trade with him. No god could ask her to leave him and all the change he brought. Like no human could stop the night to come, no forces could stop her from loving him.

A man, whom she would throw her life for. For time seemed to turn back as desperate as it was without him. A man....who will give all the life she never had.



He opened his eyes slowly and looked at the young women in front of him.

As awakened as he was. Looking at each other's eyes.
The window was behind her, with her whole life staring....and slowly blurring away.




"Run away with me..."

A Classic with Tap Dance

SINGIN' IN THE RAIN

Sutradara: Stanley Donen, Gene Kelly

Pemain: Gene Kelly, Donald O'Connor, Debbie Reynolds, Jean Hagen

Rating: 8/10


Story:
Don Lockwood (Kelly) dan Lina Lamont (Hagen) adalah pasangan selebritis yang sangat populer di era film bisu. Namun sebuah perubahan besar terjadi di masa itu: film bisu mulai digeser dengan popularitas tidak terduga dari film bicara!
Di mana-mana film mulai dibuat dengan suara, dan muncul tren berupa film musikal yang segera meroket.
Don dan produsernya pun berusaha membuat film bicara, namun terdapat satu masalah besar, yaitu suara Lina Lamont yang cempreng dan menyebalkan.

Di saat lain, ketika sedang dikejar secara brutal oleh para penggemarnya, Don bertemu dengan Kathy Selden, seorang gadis muda yang bekerja sebagai penari figuran di film, namun ternyata memiliki suara yang sangat bagus. Don segera tertarik dengannya dan jatuh cinta pada Kathy.

Setelah film Duelling Cavalier yang dibintangi Don dan Lina selesai, diadakan percobaan pemutaran di bioskop lokal. Reaksi penonton ternyata mengecewakan, karena setelah proses editing, film itu menjadi sangat buruk, terutama suara Lina.

Akhirnya diputuskan bahwa Duelling Cavalier diubah menjadi Dancing Cavalier, sebuah film musikal. Kathy akan menjadi dubber bagi suara Lina (baik bicara maupun bernyanyi).
Film ini ternyata sukses besar, namun Kathy kecewa karena identitasnya tidak akan pernah diketahui orang.
Namun Don punya rencana lain. Ketika pemutaran perdana, Don pun menyingkap bahwa suara Kathy-lah yang didengar penonton di film.
Pada akhirnya, Kathy dan Don mendapatkan proyek film bersama, yaitu Singin' In The Rain.


Review:

Benar-benar film klasik yang bagus! Sebenarnya dari dulu gw udah sering mendengar tentang film ini, tapi baru kali ini sempat ditonton. Sepanjang film gw terus mengagumi wajah aktor Gene Kelly dan Debbie Reynolds, dengan ketampanan klasik khas tahun 50-an mereka itu.
Nyadar ga sih kalo aktor/aktris sekarang ga ada lagi yang berkarakter wajah seperti itu?

Nah, namanya film musikal, pasti banyak menari dan menyanyinya. Terutama di film ini, yang sangat ditonjolkan adalah tap dance. Koreografinya super keren, mengingat hampir tidak ada film jaman sekarang yang bisa menampilkan dansa seperti itu, apalagi dengan berbagai gerakan rumit yang cepat, dan kesannya menyakiti diri sendiri..........

.....TAPI SAMBIL SENYUM DAN MELIHAT KE KAMERA!

Kalo diperhatikan baik-baik, di film ini hampir semua adegan dansa disorot dari satu sisi saja, yaitu dari depan. Permainan kamera yang lincah belum populer atau memang tidak dipergunakan, tapi hal ini justru menambahkan unsur klasik dan unsur luar biasanya.

Kalo pake teknik kamera, belum tentu aktor atau aktrisnya bener-bener bisa dansa, karena bisa ditutupi dengan teknik pengambilan gambar. Tapi di film ini, rasanya seperti nonton pementasan teater, dimana bintangnya harus bernyanyi dan menari sambil tetap melihat ke depan.

Satu lagi. Jaman sekarang kalau bikin film musikal, biasanya dansanya berunsur seksi, baik perempuan maupun laki-laki. Kostumnya dipilih yang agak ketat, terlihat seperti kurang bahan, dan koreografinya pun syeksi.
Di film ini, adegan-adegan menari dan menyanyi dilakukan dengan kostum penuh bahkan baju yang rapi, yang menurut gw menambah unsur luar biasa di film ini.
Coba aja joget pake baju lengkap...

RIBET!

Satu hal lain yang juga klasik adalah humor-humornya.
Film komedi musikal sudah lumayan jarang. Kalaupun ada, agaknya kurang lucu humor-humornya, misalnya aja Hairspray. Tapi di film ini, humornya benar-benar dapat, sehingga di akhir film, kita bisa tersenyum lebar dengan puas, dan bertepuk tangan tanpa paksaan.

And just like another musical films, you'll end up singing their most memorable song.
Me, I'm singing "Singin' In The Rain"



Kalo ada yang ingat, dulu kalo ga salah sempat dipake jadi lagu di iklan Garda Oto.

KARAOKE: Karena Abis stRess ujiAn, sO Kita karaokE

on Saturday, April 23, 2011
Tersebutlah hari itu, tanggal 6 April 2011.

Lima orang gadis cantik-cantik: Georgine Bianca (saya sendiri), Meitha Ria, Jeanne Eureka, Vania Matahari, dan Grace Gabriela duduk bosan di bangku depan ruang Moot Court sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Ujian tengah semester sudah selesai, besoknya tidak ada tugas apapun, dan kami semua terlalu mager buat kembali ke kosan.

Hari sudah gelap, sudah jam setengah 7 malam, ketika tiba-tiba tercetus ide:

"Kayaknya kita beneran harus karaoke deh. Sekarang!"



Tiba-tiba wajah kami berlima yang tadinya sudah kuyu dan ngantuk kembali bersemangat!
Sebenarnya ide karaokean itu sudah muncul dari sekitar sebulan yang lalu, tapi karena belum ketemu waktu yang pas, akhirnya tertunda-tunda mulu sampai hari Rabu yang random itu.

NAAAAH, dengan semangat empat-lima pun, kami berlima mulai merencanakan strategi karaokean tersebut yang berupa:

1. Milih tempat karaoke --> pilihan jatuh pada Inul Vista Pejaten Village. Kenapa? Karena paling dekat dari Depok dan transportasi ke sananya gampang.
2. Pilih lagu! Ya, pilih lagu harus dilakukan sebelum tiba di tempat karaoke, biar begitu nyampe di sana, kita tidak perlu buang-buang waktu untuk mikir mau nyanyi apa saja. BUANG WAKTU!
3. Mikirin transportasi --> biar cepat nyampe, pake taksi aja. Lagian ga jauh-jauh amat dan patungan 5 orang.

Saat kita lagi mikirin soal biaya karaokean, tiba-tiba gw teringat sesuatu.

"Teman-teman....kayaknya kita bisa dapat diskon deh. Gw kenal yang punya Inul Vista-nya..."

Woogh, semuanya makin senang, dan harap-harap cemas sambil gw nelpon nyokap (yang punya temennya nyokap) meminta kemurahan hati temannya tersebut.

Lalu...sms masuk.

Intinya...





KITA KARAOKEAN GRATIS!

GRATIS!

GRATIS!

once more, GRAAAAATIIIISSSSSS!!!


Muhuhuahahahahahahahahahahahha! (ketawa ala musuh Power Ranger)


Langsunglah, tanpa buang waktu sedikit pun, kami berlima langsung tjaptjoes (capcus) ke Pejaten Village! Gw rasa kalo ada foto kami berlima before-after (before-nya pas sebelum ujian), pasti keliatan banget bedanya. Malam itu, walopun udah keringetan, lenget, minyakan, dan belom mandi, tapi semangat membara di dada dan sorot mata kami membara berapi-api!! Huwoooooogh!!


Nah, inilah beberapa potongan gambar apa saja yang terjadi dan yang kami nyanyikan malam itu:


Vania, Grace PJJ (putri jambi joged) Eta, Jeanne


lagu galau para ciwi-ciwi. dinyanyikan dengan sepenuh jiwa.


mengenang masa-masa labil kami.


tidak lupa lagu jaman bokap-bokap kami.


lagu buat yang jomblo


lagunya Jeanne. Beneran cuma doski yang tau nadanya dan cuma dia juga yang nyanyi :p


dia boleh botak, boleh nikah cuma beberapa jam, yang penting lagunya membekas di hati kami!


tidak lupa 'lagu kebangsaan' PRP 2011!




Malam itu, kami pulang setelah 2 jam karaokean gratis.
Capek total karena ga cuma nyanyi, kita juga joget-joget dan lelompatan.
Suara serak atau habis, berusaha menandingi sound di ruangan.
Buru-buru pulang, berhubung kosan gw (yang paling cupu) dikonci jam 10 malam.

Tapi dengan suasana hati yang jauh-sejauh-jauhnya-dunia-ini-mampu lebih baik daripada 3 jam yang lalu.
Bahkan lebih dari sebulan terakhir.


So, as always, it ends with good night.


Good night then!

A Perfect Weekend

on Friday, April 22, 2011
Terkadang memang tidak butuh banyak hal untuk membuat akhir minggu ini menyenangkan.

Bagi gw cukup dengan rutinitas-rutinitas singkat.
But exactly!
Itulah mengapa disebut rutinitas. Sesuatu yang selalu dilakukan pada waktu tertentu secara kontinu. Kalau terlewat sekali saja, rasanya ada yang mengganjal.

Apa lagi yang kurang di hari Jumat ini?
Ke gereja untuk ibadah Jumat Agung? Sudah.
Makan siang dan jalan-jalan keluarga? Sudah.
Internetan dengan koneksi serta sinyal kuat? Sedang berlangsung.

Dan inilah bagian dari hal-hal kecil itu, yang membuat Jumat ini terasa sempurnya:


updating my apps


posting my blog


aaaaaand....reading the latest chapter of NARUTO.





Selamat Jumat Agung!

"Aal Izz Well"

on Sunday, April 17, 2011
3 IDIOTS

Sutradara: Rajkumar Hirani

Pemain: Aamir Khan, Madhavan, Sharman Joshi, Kareena Kapoor, Boman Irani

Rating: 8/10


Story:
Dua orang sahabat, Raju Rastogi (Joshi) dan Farhan Qureshi (Madhavan) berniat untuk mengadakan reuni kecil-kecilan dan bertemu dengan teman kuliah mereka, Rancho (Khan). Dalam perjalanan menuju tempat tinggal Rancho, mereka pun mengingat kembali bagaimana pertemuan mereka di universitas.

Rancho adalah mahasiswa yang unik namun cerdas. Ia diterima di institus teknik terkenal di India yang dipimpin oleh Viru Sahastrabuddhe (Irani), dan di sanalah persahabatan antara Rancho-Raju-Farhan terbentuk.

Raju adalah seorang mahasiswa miskin yang selalu terlihat tertekan. Ayah Raju sakit dan tidak bekerja, kakaknya belum menikah, sehingga semua beban keluarganya itu seolah tertumpuk di pundaknya.
Sementara itu, ayah Farhan ingin sekali anaknya lulus menjadi seorang insinyur ternama, namun yang disukai Farhan hanyalah fotografi. Bagi ayahnya, fotografi bukanlah pekerjaan yang membanggakan, sehingga ia memutuskan untuk mengubur mimpinya itu.

Ketika mereka telah tiba di kediaman Rancho, mereka terkejut mendapati bahwa Rancho merupakan orang yang sama sekali berbeda dengan yang dulu mereka kenal. Selidik punya selidik, ternyata Rancho (teman mereka) hanyalah anak tukang kebun di rumah Rancho (asli). RP (rancho palsu) sejak kecil sangat suka belajar, sehingga ayah RA (rancho asli) memutuskan bahwa RP boleh meminjam identitas anaknya untuk berkuliah di universitas teknik terbaik itu, "yang penting ijazah beratasnamakan Racho bisa terpampang di dinding rumah ini".

Setelah perjalanan panjang, aksi menggagalkan pernikahan, dll, akhirnya mereka menemukan RP, yang ternyata telah menjadi seorang engineer ternama, namun malah bekerja sebagai guru di daerah terpencil. Ketiga sahabat itu pun kembali bersatu.


Review:

Hmmm, mungkin karena budayanya agak mirip, jadi walaupun ini film India, namun situasi dan ceritanya terasa sangat pas dengan kondisi pendidikan dan kondisi mahasiswa di Indonesia.

Tapi justru itulah poin pendukung film ini!
Kritik-kritik yang diucapkan oleh tokoh Rancho sangat mengena dengan sistem pendidikan yang memang terlihat seperti sebuah lomba yang mematikan.

Kondisi Farhan pun sangat sesuai dengan mahasiswa galau yang sebenarnya bercita-cita lain, namun demi membahagiakan orang tua terpaksa masuk di fakultas pilihan ortu.....



Oh, hidup~



Tapiiii....
Bukan film India namanya kalo ga pake menari dan menyanyi. Tapi karena settingnya remaja-remaja gitu, gw malah teringat trilogi High School Musical pas adegan nari/nyanyi-nya.

Ada satu hal yang agak mengganjal gw. Perasaan gw doang ato cowok-cowok India gampang banget nangis?

Hmm, gatau gimana sih, yang jelas di film ini, ketiga tokoh utamanya (yang adalah cowok semua) dalam banyak adegan dengan mudahnya menangis heboh sampai tersedu-sedu.
Yah...

Sedih juga sih... *ambil tisu*

Humor-humor dalam film ini juga pol lucunya! Sekali lagi mungkin karena latar belakang budaya yang mirip, jadi banyak humor-humornya yang sangat bisa dipahami. Apalagi karakter Chatur Ramalingam, mahasiswa ambisius yang selalu ingin jadi yang terbaik, tapi bersifat sombong.

Overall, film ini benar-benar menghibur tapi di saat yang sama juga mendidik. Temanya sangat remaja, jadi cocoklah ditonton oleh orang-orang seumur gw.
Jalan ceritanya bagus, romantismenya ga berlebihan, dan dijamin pengen reunian habis nonton film ini.

Pesan: bagi anda-anda mahasiswa/i yang merasa senasip dengan Farhan (termasuk gw), jangan terlalu dipikirin. Kalo memang niat, pasti ada jalan. Ucapkan saja:

ALL IZZ WELL!

Selera? Idealis? atau Boros?

Mendekati usia 20 tahun ini, gw semakin menyadari kecenderungan-kecenderungan dalam diri gw. Salah satu diantaranya adalah...yang menjadi judul posting ini.
Biar pendek, disingkat jadi SIB aja.

Nah, kenapa gw sebut SIB?

Karena gw seyogyanya juga belum tau sindrom gw ini tergolong kategori apa di antara ketiga hal di atas. Sudah lama gw mengalami sindrom ini, dan pada suatu hari yang random, percapakan singkat dengan sahabat gw Nana makin memperjelas sindrom ini.

Kata doski:

"Kalo gw punya barang, terutama gadget, harus sesuai fungsi atau hakekatnya. Misalnya gw mau foto...ya gw beli kamera. Gw mau merekam...ya gw beli handycam. Gw mau mp3 player...ya gw beli iPod. Gw ga suka foto, dengar lagu, atau merekam di handphone walaupun handphone bisa semuanya. Bagi gw handphone ya buat nelpon dan sms."


Gw terhenyak dengan kata-kata itu....

KARENA ITU SANGAT MENGGAMBARKAN DIRI GW SENDIRIH!

Dan itulah yang sedang terjadi sekarang. Diperparah lagi dengan sifat impulsif (atau random?) gw.

Contoh nyata:

Tahun 2009

"Aduh, udah banyak nih lagu-lagu gw. iPod nano-nya udah ga muat. Pengen beli iPod classic biar muat."


Dan benda itu pun menjadi hadiah gw masuk UI. Saat tiba di Infinite, nyokap sempat menawarkan apakah gw tetap mau iPod classic atau iPod touch aja.

Gw bersikeras iPod classic. Nyokap pun bertanya:

"Kenapa ga sekalian yg touch aja? Kan bisa buat main game juga, bisa taro gambar, dkk dll.."

Gw bersikeras iPod classic. Penyebab pertama adalah karena kapasitas iPod classic lebih memungkinkan buat lagu-lagu gw (yang sudah melebihi 32 GB). Penyebab kedua adalah karena sejak awal gw ngidamnya iPod classic.

Idealis?
Selera?


Tahun 2010

"Banyak momen penting dalam hidup gw. Gw pengen merekam semua itu biar bisa gw tonton di hari tua nanti. Lagian cita-cita gw kan jadi sutradara. Beli handycam kayaknya asik nih..."

Dan setelah kelaparan selama 4 bulan tabungan cepat terisi, gw pun membeli handycam...sekali lagi ditemani nyokap.

Lalu nyokap kembali bertanya:
"Kenapa ga beli kamera SLR aja? Kan pixelnya lebih besar, terus kualitas gambarnya lebih bagus...bisa foto juga..dll dsb..."

Gw tetap beli handycam. Karena bagi gw, buat merekam ya handycam. Buat foto lain lagi ceritanya.

Idealis?
Boros?

Tahun 2011

(habis nonton Teater Koma)
"Agaknya keren nih kalo punya SLR. Bisa foto macem-macem dengan kualitas yang oke. Siapa tau bisa jadi sumber uang juga..."

And that's my early birthday present.

Nyokap sekali lagi menawarkan,
"Mau sekalian yang 600D ga? Biar keren. Kan merekan videonya udah HD tuh, terus bagus, terus bla-bla-bla..."

Gw bersikeras yang paling murah aja, which is 550D. Alasan?
Karena gw ga se-pro itu. Ngapain mahal-mahal? Sayang disayang......lagunya enak merdu sekali? #lupakan

Selera?
Idealis?
Boros?


Yea, I haven't figure it out yet.
Nanti malam, mungkin. Di detik-detik menjelang bertambahnya usia.

Meanwhile, I just thank God for everything I've got.
For God is great. He gave me precious things through my parents, yet above all,

He gives me life.
He keeps his eyes on me when no one else see.

And for these, I thank Him in every breath I take and in every blink of my eyes.



Thank you...God!

"The Story of Love"

(500) DAYS OF SUMMER

Sutradara:

Pemain: Joseph Gordon-Levitt, Zooey Deschanel

Rating: 6/10


Story:
Tom (Levitt) adalah seorang lulusan arsitektur yang bekerja di perusahaan pembuat kartu ucapan. Suatu hari perusahaan tersebut kedatangan sekretaris baru, yaitu Summer, dan Tom langsung menyukai gadis itu.

Summer adalah gadis yang berbeda dan menarik. Terkadang tidak bisa ditebak, impulsif, namun menyenangkan. Tom akhirnya berpacaran dengan Summer, namun setelah cukup lama berada dalam hubungan tersebut, Summer serta merta memutuskan untuk mengakhirinya.

Tom terkejut dan sakit hati karena dicampakkan begitu saja oleh Summer, dan selama beberapa bulan ia terus hidup dalam kenangan mereka berdua sambil berusaha melupakan Summer serta melanjutkan hidup.


Review:
Satu kata untuk menggambarkan film ini adalah: unik.

Ceritanya sebenarnya simpel, tentang dua orang yang berpacaran, berpisah, lalu bagaimana si pria belum dapat move on dari mantan pacarnya.

Skenario yang bagus membuat film ini terasa...manis. Keduanya juga memiliki karakter yang kuat, apalagi akting Zooey Deschanel benar-benar menunjukkan karakter Summer.

Menurut gw, tagline-nya juga bagus.

"This is not a love story. This is a story of love."


...dan memang benar adanya. Film ini bukan murni kisah cinta-cintaan unyu, tapi film yang bercerita tentang seperti apa cinta itu, dan bagaimana cinta itu mempengaruhi seseorang: Tom dengan segala usahanya melupakan Summer.

Dari tingkat ke-unyu-an sih...yaaaah...lumayan unyu lah. Film ini tidak membuat penontonnya menangis heboh seperti nonton The Notebook ato A Walk To Remember, tapi cukup membuat kita (terutama gw) tersenyum maklum karena...

....karena sesungguhnya akhir film ini biasa aja.

Agak datar sih, sebenarnya.

Bahkan gw menulis blog ini dengan muka datar.

Yaah, kira-kira seperti ini...

(from fuckyeahmahasiswa.tumblr.com)


But it's not bad, you know. If you found yourself alone in your dorm and needed some good yet light movie to watch, you can watch this movie.


"Look Closer"

on Saturday, April 16, 2011
AMERICAN BEAUTY

Sutradara: Sam Mendes

Pemain: Kevin Spacey, Annette, Bening, Thora Birch, Mena Suvari, Wes Bentley

Rating: 9/10


Story:
Lester Burnham (Spacey) seorang ayah dan suami yang tinggal di daerah suburban Amerika, menemukan semangat hidupnya lagi setelah bertemu dengan sahabat anaknya, Angela (Suvari). Ia merasa hidupnya yang selama ini membosankan akhirnya terjaga, dan mulai memutuskan untuk melakukan apa yang ia inginkan sesuka hatinya.

Lester memiliki seorang istri yang dominan, Carolyn (Bening), bekerja sebagai agen real estate setempat. Mereka memiliki seorang anak perempuan, Jane (Birch), yang--seperti remaja pada usianya--mengalami masa-masa pencarian jati dirinya.

Merasa semangat hidupnya bangkit kembali, Lester kemudian berhenti dari pekerjaannya, berolahraga demi membentuk tubuhnya, dan malah mengambil pekerjaan di restoran cepat saji sebagai usaha melepaskan kebosanan hidupnya dan mulai melakukan hal-hal yang ia sukai.

Namun tetangga baru mereka yang adalah pensiunan tentara memiliki prinsip yang cukup kaku, dan satu kesalahpahaman memberikan akibat fatal bagi kehidupan kedua keluarga tersebut.


Review:

Film ini resmi menjadi film favorit gw yang baru.






(sedang menghayati betapa kerennya film tersebut)

Satu yang sangat menonjol dari film ini adalah sinematografinya. Benar-benar wajib diancungi empat jempol sekaligus!

Film ini benar-benar bercerita melalui gambar yang ditampilkan. Kebanyakan film sekarang lebih memilih sarana percakapan untuk menjelaskan sebuah situasi atau apapun, namun dalam film ini, penekanan suatu karakter atau suasana tertentu adalah melalui film itu sendiri, yaitu gambar-gambar yang bergerak.

Contoh yang paling membuat gw terhenyak adalah penekanan karakter Ricky Fitts. Dalam film ini, karakter Ricky adalah seorang anak yang pendiam dan tertutup, memiliki ayah yang kaku, selalu berpenampilan rapi, dan hobi memfilmkan segala sesuatu yang menurutnya 'indah'.

Ketika setting memperlihatkan kamar Ricky, gambarnya memperkuat sekaligus menjelaskan karakternya lebih jauh.
Kamar tersebut penuh dengan kaset hasil rekaman, menjelaskan minatnya yang besar dalam merekam berbagai hal.
Kaset-kaset tersebut tersusun rapih, mempertegas kebiasaannya memakai baju rapih, dll.

Dari segi cerita, film ini juga luar biasa. Ceritanya mungkin sederhana, namun setiap karakter memiliki karakternya masing-masing yang sangat kuat, yang memberi warna lebih pada cerita film tersebut.
American Beauty ini jelas bergenre drama. Ceritanya sangat drama. Namun, tidak seperti drama-drama lainnya, masing-masing karakternya memiliki ciri khas yang tidak sama.

Ada Carolyn yang selalu dominan dan menganggap dirinyalah yang memiliki derajat tertinggi di rumah.
Angela, yang cantik dan menarik, namun sebenarnya penakut lalu memilih bahwa lebih baik mengarang cerita daripada benar-benar melakukan sesuatu, dsb.

Satu poin ekstra:
bahkan POSTER film ini pun keren! Konsepnya unik, dan tagline-nya juga memberi kesan....penasaran...


so....




Just look closer.

I Was (Not) In A Hiatus

on Friday, April 15, 2011
Pada detik ini juga gw benar-benar ingin menangis terharu dilatari intro lagu Kabhi Kushi Kabhi Gam...

Karena pada akhirnya lampu modem gw bersinar turqois.

Karena itu menandakan kualitas penerimaan sinyala yang sangat baik.

Yang berarti gw pada akhirnya bisa mengisi blog gw lagi.


THANK GOD ALMIGHTY!


Kendala sinyal ini membuat gw malas membuat posting baru, karena masuk ke Blogger-nya aja super lama, belum lagi tau-tau posting gw hilang tak berbekas karena gagal tersimpan. Errrrgh!

Nah, dengan waktu yang singkat ini gw akan berusaha memanfaatkan kesempatan yang ada semaksimalnya!

(ongoing...)




In a brief moment I'm going to start the movie review marathon, since I've been watching quite a lot this month.



See you in the next post!

"I Was Perfect..."

on Thursday, March 24, 2011
BLACK SWAN

Sutradara: Darren Aronofsky

Pemain: Natalie Portman, Mila Kunis, Vincent Cassel

Rating: 8/10


Story:
Nina, seorang balerina, sangat ingin mendapatkan peran sebagai Swan Queen di pementasan terkenal Swan Lake. Ia mencoba segala cara agar sang pelatih, Thomas, mau memberikan peran itu padanya. Thomas yakin Nina dapat memerankan sosok White Swan yang baik dan lugu, namun ia ragu apakah Nina juga dapat memerankan sosok kembaran jahat si angsa putih, yaitu Black Swan yang sifatnya misterius, menggoda, dan berbahaya.

Nina sendiri hidup berdua saja dengan ibunya yang mantan balerina dan overprotektif terhadap putri tunggalnya, bahkan cenderung memperlakukannya seperti anak kecil.
Di sanggar balet sendiri, Nina tertarik dengan sosok Lily, balerina lain yang nampak sangat bertolak belakang dengan dirinya, bahkan mendekati sifat sang Black Swan sendiri.

Perlahan-lahan Nina lalu mengeksplorasi peran untuk Black Swan lebih dalam, dan memasuki sisi gelap dirinya sendiri, melakukan hal-hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya, namun juga dihantui oleh halusinasinya sendiri terhadap hal-hal mengerikan. Ketidakpercayadiriannya masih menjebaknya, dan ia menumbuhkan sebuah kecurigaan bahwa Lily ingin mencuri perannya.

Nina bahkan nekat 'membunuh' Lily, yang kemudian disadari hanyalah bagian dari halusinasinya sendiri.
Hingga akhirnya pada saat pementasan, Nina bertransformasi dengan sempurna sebagai Black Swan, mengeluarkan sisi gelap dirinya.

Nina lalu menyadari, yang telah ia bunuh bukanlah Lily, melainkan dirinya sendiri. Sisi gelap dalam dirinya yang mencoba keluar.
Dalam detik terakhir hidupnya, setelah pementasan Swan Lake selesai dengan sukses, Nina mencapai impiannya selama ini: sebuah sosok balerina dan sosok Swan Queen yang sempurna.


Review:
GREAT, THRILLING, and PSYCHOTIC movie!

Ide ceritanya bagus, karena mengambil setting balet sebagai poros ceritanya. Di samping akhir-akhir ini memang lagi populer film-film joget (breakdance, dansa India, dkk), film ini bener-bener mengusung suasana yang jarang diperlihatkan sebelumnya.

Buat yang gatau cerita Swan Lake itu seperti apa, ini ceritanya:

Seorang gadis cantik bernama Odette terkena kutukan dari penyihir jahat Rothbar. Kutukan itu menyebabkan Odette berubah menjadi angsa di siang hari, dan kembali jadi manusia hanya saat malam hari. Untuk dapat menjadi manusia seutuhnya kembali dan bebas dari kutukan tersebut, Odette harus menemukan seseorang yang berjanji akan mencintainya selamanya.

Odette lalu tinggal di sebuah danau bersama angsa-angsa lain yang bernasib sama dengannya. Suatu malam, saat tengah berburu, Pangeran Siegfried tiba di danau itu dan mendapati Odette dalam rupa manusianya. Pangeran Siegfried terpesona dengan kecantikan Odette, dan jatuh cinta padanya. Sang pangeran kemudian mengajak Odette untuk datang ke pesta dansa di istananya, dimana ia akan memilih Odette sebagai pendamping hidupnya.

Penyihir Rothbar mengetahui rencana Pangeran Siegfried, dan untuk mencegahnya, ia merubah penampilan anak perempuannya sendiri, Odile, ke dalam sosok Odette dan datang ke pesta dansa tersebut. Sang pangeran tertipu, mengajak Odile berdansa dan menyatakan cinta serta sumpah setianya pada Odile. Rothbar dan Odile lalu membuka penyamaran mereka.

Dengan sedih, Odette--yang sebelumnya telah datang ke istana namun dalam timing yang kurang tepat--kembali ke danau. Pangeran Siegfried mengejarnya ke danau, dimana Odette menyatakan padanya bahwa satu-satunya jalan sekarang untuk bebas dari kutukan itu adalah dengan mati.

Ketika Rothbar tiba di danau itu juga, Odette lalu melompat ke danau diikuti oleh sang pangeran. Keduanya pun mati, dan kutukan Rothbar punah, dan angsa-angsa lainnya pun terbebas (mereka lalu menyerang Rothbar hingga penyihir itu mati).

Ketika fajar menyingsing, jiwa Odette dan Pangeran Siegfried terangkat ke surga bersama, bersatu dalam cinta abadi mereka.



UNYUK!

Ya begitulah. Cerita ini sesungguhnya tidak happy ending, jadi jangan percaya dengan versi Barbie: Swan Lake yang pastinya berakhir bahagia.

Kembali ke film.
Ada beberapa adegan sadis--yang sebenarnya hanya bagian dari halusinasi Nina--yang cukup menganggu dan berhasil membuat kami (film ini ditonton di ruang Perfilma) berteriak-teriak ngilu.
Bagi gw, terutama di bagian Nina dengan tekunnya menarik kulit di pinggir kukunya yang mengelupas.

Kenapa gw ngilu? Karena gw lumayan suka melakukan hal yang sama. Kebiasaan dari kecil yang ga bisa hilang. Cuma bedanya, gw nggak sesadis itu narik kulitnya sampe ke panggal tangan. Cuma gw tarik sampe sakit aja. Kalo udah sakit ato berdarah, ya gw berhenti.

Jadi film ini memang memperlihatkan perubahan psikologis dalam diri Nina, dimana dia sebenarnya adalah gadis baik-baik yang frigid, namun demi peran di Swan Lake ia harus mendalami karakter Odile sang Black Swan yang sangat berlawanan dengan dirinya.

Akting Natalie Portman tidak usah diragukan lagi. Mila Kunis juga tampil sangat menggoda di film ini, dimana seolah-olah, dalam istilah gw kira-kira seperti ini:

'Gila, pas lagi nari seksi banget!'
'Wah, pas adegan lesbi-nya sensual banget!'
'DIA GA NGAPA-NGAPAIN AJA SEKSI!'

It's totally recommended, and instead of acting naked, I think actresses should search for a character like Nina to played in movies.

"I Just Called...To Say...I Love You..."

BABI BUTA YANG INGIN TERBANG

Sutradara: Edwin

Pemain: Ladya Cheryl, Joko Anwar, Andhara Early, Carlo Genta, Pong Harjatmo

Rating: 8/10

Story:

Bercerita tentang Linda, seorang gadis keturunan Tionghoa beserta orang-orang di sekitarnya. Ayah Linda adalah seorang dokter gigi yang nampaknya ingin menyembunyikan identitias rasnya dari orang lain. Ibu Linda yang ingin menjadi pemain bulu tangkis namun kandas karena rasa diskriminatif.
Sahabat Linda dari kecil, Cahyono, yang pernah dianiaya karena ia orang Tionghoa, dll.

Review:
Ehem, ehem...

Jadi film ini diputar di acara Pekan Raya Perfilma, tepatnya tanggal 11 Maret lalu. Selain memutar filmnya, kita juga mengundang sutradara film ini, Edwin, untuk bincang-bincang soal film ini.

Yaaa, kalo dari sudut pandang gw pribadi, film ini super keren. Alurnya yang lambat dan penggambarannya yang natural membuat filmnya terasa benar-benar nyata.

Kita seperti melihat ke dalam kehidupan seseorang yang dekat dengan kita, tanpa harus merasa terlibat atau mengaitkan diri kita dalam karakter-karakternya.

Di film ini terdapat adegan yang cukup vulgar, melibatkan 3 pria, 3 senggama (sebut saja threesome), dan kurang lebih tiga tetes (maaf) sperma yang jatuh ke lantai.

Iya, jijik emang. Banyak yang keluar ruangan gara-gara adegan itu.

Ditambah lagi, di film ini hanya ada satu lagu yang diputar berulang-ulang, yaitu yang gw jadiin judul postingan gw kali ini. Aslinya dinyanyikan oleh Stevie Wonder, namun di film ini dinyanyikan orang lain.

So far, film ini super keren. Gw suka cara penceritaannya, walaupun agak lambat. Film ini sangat kuat secara cerita, sama seperti film horror Jelangkung.

Well, you can always surprised of how good an Indonesian film could be...more than Hollywood movie in fact.

PERFILMA goes to TV One

on Wednesday, March 23, 2011
Tanggal 16 Februari lalu (iya udah lama banget emang), dalam rangka mencari dana untuk acara tertjinta kami: PEKAN RAYA PERFILMA 2011, maka kami pun menerima undangan buat ke TV One.

Ceritanya kita bakal nongol di acara Jawara (Janji Wakil Rakyat) yang disiarkan live dari studio TV One.
Maka dimulailah, dengan semangat-ngeksis-2011, dua puluh biji anak Perfilma datang ke TV One...dengan teknologi transportasi bernama nebeng.

Gw sendiri nebeng di mobil Angkasa Andhika a.k.a Semok anak 2010, beserta dengan Sam, Adiz, dan Jeanne.
Saat menimbang-nimbang mau lewat jalan mana yang lebih cepat, mister Semok memutuskan bahwa lewat jalan biasa akan lebih cepat dibandingkan lewat jalan tol.

Sebuah kesimpulan yang amat salah dan amat fatal.

Lewat jalan biasa ternyata MACET di mana-mana, saudara, MACET! Gw ingat banget orang-orang di mobil mengalami degradasi mental, dimana awal berangkat kita semua hepi dan bersemangat, namun setelah satu setengah jam di mobil, kita mulai bete.

Tapi akhirnya kita tetap nyampe tepat waktu, thanks to the man: Semok! Setelah pake jakun dan dandan dikit, kami pun masuk ke studio.

Jadi intinya tugas kita di sana hanyalah duduk manis, terlihat memperhatikan dengan serius saat kamera menyorot kita, dan tepuk tangan saat disuruh.
Sisanya?

Terserah.

Ngupil boleh, ngangkang boleh, kayang juga boleh.

Setelah acara mulai tayang, gw pun menyadari bahwa posisi duduk gw agak salah!
Kenapa?

ikuti tanda panah....


Gw duduk TEPAT di belakang mas-mas ini. Pas di sebelah Jeanne (paling kanan bawah).

Posisi duduk ini membuat gw TIDAK TERLIHAT hampir sepanjang acara....*gagal ngeksis*

Ya, pastinya acara ini cukup....ehm...ngantuk. Gw kurang mengerti yang dibicarakan oleh dua kubu itu, dan gw juga tidak terlalu peduli dengan apa yang diucapkan. Kerjaan gw cuma ngenggol kaki Eta yang pas di sebelah gw pas muka doski lagi disorot kamera.

Well, anyway....